“Kebun”

seorang pemuda pulang dari pengembaraan
ia duduk termangu di depan kebun yang lama ia tinggalkan
kebunnya kini meranggas gersang
rumput liar dan belukar tlah mengganti taman bunganya.

“hei, kau baru pulang?” sapa sang gadis hampiri.
“ya. dan kutemukan kebunku tak terurus,” jawab si pemuda.
“mengapa kebunmu tak terurus?”
“kilatan lampu kota-kota membutakanku. persimpangan-persimpangan jalan menyibukkanku, teriakan-teriakan di pasar menulikanku. dan aku tertipu. kutinggalkan kebunku.”
“dan karena itu kau kembali?”
“ya.”
sang gadis tersenyum.
ia balikkan tubuhnya.
“kau mau kopi atau teh?”
“teh. teh pahit.”

si pemuda bangkit dari duduknya
selipkan arit di pinggang dan panggulkan cangkul di bahu
ia langkahkan kakinya ke dalam kebun yang lama ia tinggalkan
di dapur, sang gadis nyalakan tungku
panaskan air untuk teh pahit kesukaan kekasihnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s