6 (Enam) Tipe Penganut Agama di Indonesia (Bag. 1)

islamTipe-tipe penganut agama ini, meskipun secara khusus dilihat dari agama Islam di Indonesia sebagai ‘main sample’, tp bisa juga diterapkan secara umum pada agama-agama dan ideologi2 lain. Tak hanya di Indonesia, tp scr umum bisa juga dipake diseluruh dunia. Ehm. Moga2 bermanfaat buat teman2 sekalian.

note: ini adalah pembagian kasar. masih sedang disempurnakan. kita tunggu kritik-sarannya.

1. Si damai

Tipe damai adalah tipe penganut agama yang mayoritas, paling banyak ditemui di tiap agama. Ciri2 penganut agama yang damai adalah tidak suka kekerasan dan membenci tindakan2 anarkis, penuh toleransi tapi sangat fanatik dengan ideologi agama yang dianutnya (meskipun tidak memahami dengan benar aqidah agamanya), kebanyakan menganut agama karena keturunan, bukan karena kefahaman (agamanya sama dengan agama bapak-emak-kakek-nenek-buyutnya), cenderung menjalani kehidupan yang damai dan apa adanya, ‘enjoy the life’ dan ‘yang penting enak dan nyaman’ adalah motto hidupnya. So, tipe damai ini asal kebutuhan dasarnya terpenuhi sama sekali tidak suka beroposisi dan selalu siap menjadi warga Negara yang sangat ‘baik dan benar’. Bagi si damai, yang paling penting adalah bisa makan tiap hari, jadi orang baik, damai, gak ngganggu+diganggu orang lain, dan tentu saja nyembah Tuhannya masing2.

Bagi para penguasa, bapak2 berdasi-safari di langit sono, si damai adalah tipe warga Negara favorit yang paling didemeni. Coz model penganut agama yang damai ini biasanya tidak kritis ama kebijakan pemerintah, gak banyak cingcong dan gampang diatur pake mitos-mitos ‘sabdo pandhito ratu ing kawulaning gusti’ mereka. Dari fatwa halal-haram nge-rebounding sampe manipulasi berita (aka: rekayasa) terorisme. Palagi kalo ‘sabdho pandhito ratu’nya udah dijus ama fatwa-fatwa ‘n dekrit-dekrit para petinggi agama macam al-mukarom pak Kyai-Haji ato Mr. Romo yang terhormat.

2. Si galak

Tipe yang kedua adalah tipe si sengit alias si galak. Tipe penganut agama model gini, seperti namanya punya ciri khas penuh dengan kesengitan, kebencian, agresif, kaku, non kompromi, gampang panas, meledak-ledak, dan super galak –bahkan cenderung anarkis pada hal-hal yang mereka anggap bertentangan dengan agama yg mereka yakini. Dan mereka biasanya mengatasnamakan semua tindakan anarkisnya ini dengan nama ‘jihad’. Ciri2 penganut agama yang sengit ini biasanya sangat tekstualis, hobi memamerkan simbol2 (yang dianggap) agamis seperti memelihara jenggot+brewok, pake jubah+udeng2 guedhe, bawa2 tasbeh ama sorban, dan tentu tak lupa celana komprang bawah dengkul. Prestasi mereka kebanyakan bukan di bidang intelektual ato –boro2- iptek, tapi dari panjangnya kemacetan yg mereka bikin dari konvoi akbar mereka; dari banyaknya umbul2 dan poster-baliho raksasa di pinggir jalan; ama super kerasnya suara corong speaker saat ngaji 24 jam mereka (yg bikin orang setengah sakit jadi sakit beneran…). Kebanyakan dari mereka pikirannya sangat sempit dan picik, gaptek dan bahkan menolak teknologi –walopun juga ikut make-, kata2 favorit mereka adalah; bid’ah, syirik, kafir, maksiat, zina, hancurkan! bakar! Mereka paling anti ama Zionis dan Amerika yang terus2an membunuhi saudara2 seagamanya di Palestina dan di belahan bumi lainnya sana. Saking terkenalnya kesengitan ‘n kegalakan mereka ini ampe2 mereka dijadikan sbg sasaran empuk sama musuh2nya dgn stigmatisasi ‘teroris’. Pokoknya golongan ini dikenal sama masyarakat –dan terus diperkenalkan oleh media2 lawannya- sebagai pembuat kerusakan, corong anarki, garis keras, golongan ekstrim, teroris, dkk. Walopun, sebenernya tidak selalu seperti itu…..

Meskipun dikenal dan terus distigmakan sebagai kelompok anarkis oleh lawan2nya, tapi sebenarnya si sengit ini punya satu hal yang amat ditakuti ama musuh2 agama (zionis), yaitu militansi, kecintaan, dan ketulusan yang sangat kuat terhadap agamanya. Terlalu kuat malah sampai2 fanatiknya overdosis. Sejatinya, semua tindakan -yg terus distigmakan negative oleh lawan2nya- ini sebenarnya lahir dari kecintaan tulus mereka pada agama. Hanya saja, karena kepolosan (innocence) dan kebodohan (stupidity) mereka –yg rata2 kurang terdidik; mayoritas mereka adalah anak nakal yang memperoleh ‘hidayah’ dan bertobat di ‘jalan tuhan’- membuat mereka terlalu mengagungkan simbol dan gampang dipanas2i dan dimanfaatkan oleh musuh2 agama. Si sengit ini mengira bahwa sifatnya yang keras, kaku, agresif, bahkan anarkis ini adalah satu-satunya jalan menjaga kesucian agama, tp mereka tak sadar bahwa pembelaan yang rapuh, kaku, dan bahkan anarkis ini justru menjadi salah satu senjata terampuh musuh untuk menghancurkan agama.

Bagi penguasa, si galak ini menjadi momok karena agresivitas dan sikap mereka yang gemar beroposisi. Polisi paling sebel sama mereka coz sering membuat polisi males gak lagi makan gaji buta ‘n keluar tenaga ekstra. Apalagi kalo pas ada demo bin unjuk rasa. Ditambah klo ada yang jadi (baca: dijadikan) teroris, wah, alamat gak bakal bisa cuti berminggu-minggu tuh pak polisi. Tp walo begitu, sebagai pengalih perhatian dari kasus2 korupsi pejabat yang ngembat triliunan rupiah uang rakyat, si galak ini sangat usable dan serbaguna. Gampang untuk dimanfaatkan….praktis….tinggal dihewes-hewes dikit di media, jadi, deh!

(di Indonesia, dgn lokalitasnya yang kental dan budaya ‘manut kyai’nya yg masih mentradisi, si sengit ini banyaknya menduduki peringkat ke-3)

3. Si genit

Tipe ketiga adalah tipe penganut agama yang genit, banyak gaya, ahli berganti bedak dan selalu gak pede kalo gak make make up-make up tebel made in barat. Berbeda dengan si sengit yang sangat militant, fanatik dan menganggap agama adalah segalanya –walo dalam realitas mrk kesulitan mengaplikasikan ajaran agamanya yg kaku dan sangat tekstualis-, penganut agama yang genit ini biasanya mereka awalnya adalah anak alim lulusan pesantren yg puritan. Tp begitu mereka masuk dunia kuliah dan ketemu pemikiran2 barat yang terlihat ‘rasional’, mereka yg masih polos dan ‘ndeso’ kaget, shock, silau akan semua hal2 baru yg terlihat lebih ‘cool’ dan ‘modern’ ketimbang apa yg pernah mrk dapatkan dulu di tempat pendidikan agama konvensional. Akibat euphoria ‘ndeso ini, mrk langsung ganti halauan. Mereka memang masih beragama, tp gara2 silau ama pemikiran para pemikir barat mereka jadi gak pede ama agama mbah buyut yang mereka pegang. Mereka menganggap bahwa ajaran agama warisan mbah buyut alias engkong2 mereka itu tidak sempurna alias tidak lengkap bin cacat. Mereka beranggapan bahwa ajaran agama itu kurang, tidak up to date, dah ketinggalan jaman -tp anehnya tetap saja mereka pertahankan…..

“Bayangin aja, ajaran agama kan muncul dibawa nabi pas jaman batu dulu, dah fosillivied, mana cocok sama perkembangan zaman sekarang yang canggih dan serba digitalized ini?” Itu kurang lebih pendapat mereka (udah mulai keracunan pr pemikir barat…). Karena itu tak heran jika kemudian si genit ini, karena gak pede dengan ajaran agama yang mereka anut, mangkanya mereka kemudian berusaha ‘menyempurnakan’ dan ‘mempercantik’ ajaran agama dengan berbagai comotan teori para pemikir2 barat macam Karl Marx, Jung, Hegel, yg mereka anggap ‘modern’ dan ‘keren’ buat menyempurnakan dan ‘mempercantik’ agama warisan leluhur mereka yang –dianggapnya- gak sempurna (pdhl sejatinya gak gitu, agama dah sempurna, cuman mrk gak punya cukup kecerdasan untuk memahaminya). Akibatnya, mereka tak segan2 mencungkil ajaran agamanya dan menggantinya dengan doktrin2 baru yg mereka anggap lebih ‘cool’ dan ‘fotogenic’. Si genit ini, kemudian dikenal sebagai sebagai golongan liberal. Mereka memang beragama, tp mereka dengan mengatasnamakan ‘bersikap moderat’, malah mengamputasi agama mereka sendiri, mencungkil mana yang tidak sesuai dengan selera mereka dan menambah-nambahinya dengan teori2 pemikir barat yang liberal; yg cenderung hendak menjadikan agama sebagai masalah individual dan berpisah dari ranah public/kekuasaan.

Ciri2 utama si genit ini adalah gak punya pendirian yang jelas, jago berbasa-basi, fasih mengutip kata2 pemikir barat, sok moderat tp malah jadi penjagal agama yg ‘santun’; jago mengamputasi dasar2 agamanya semata agar kelihatan ‘cool’ dan ‘modern’ ala pemikir barat, kata2 favoritnya; TBC (Takhayul, bid’ah, ceprot…, pengkultusan individu, dkk. Tidak seperti si sengit, si genit yg biasanya adalah lulusan pesantren yg nyasar ke Boston ato Harvard ini sangat disukai oleh penguasa karena dengan sikap ‘moderat’nya mereka emang pinter mencari muka. Selain ama penguasa, si genit ini juga dianak-emaskan oleh Zionis n Yahudi coz sikap sok kritis kebablasan mereka terhadap agama yang sesuai dengan kepentingan Zionis yg ingin menghancurkan semua agama. Musuh utama si genit ini adalah si sengit. Klo bertemu mereka selalu aja berantem. Si genit bilang klo si sengit itu kuno, ndeso, kaku dan ketinggalan zaman, sementara si sengit bilangnya kalo si genit itu tak punya pendirian, pinter menjilat doang dan jadi antek2 Zionis!

(di Indonesia, banyaknya si genit menduduki peringkat ke-4. Biasanya mereka nongkrong di tempat2 kuliah yg didanain ama antek2 Zionis.)

One thought on “6 (Enam) Tipe Penganut Agama di Indonesia (Bag. 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s