Elang dan Dara (Cerpen)

Tap! Tap! Tap…!
Bunyi tapak kecil yang menjejaki lantai keramik menggema di ruang tamu. Dengan langkah riang, Dara menuju kamarnya. Gadis berbaju kuning cerah itu terlihat senyum-senyum sendiri. Sepasang lesung pipit menghiasi pipinya yang merona menyisakan bekas ketersipuan. Agaknya bidikan panah cupid sang Dewi Amore tepat mengenai hatinya.
“Loh! Baru pulang, Non Dara?”
Bik Ijah terlihat heran melihat kedatangan Dara. Siang tadi nona mudanya ini bilang pulang sorean. Tapi malam sudah mulai larut, gadis itu baru pulang ke rumah.
“Iya, Bik,” jawab Dara, tersenyum manis. Terlalu manis malah. “Mama-Papa kemana, Bik?”
“Kan lagi ke Australia, Non. Masak Non Dara lupa? ” jawab Bik Ijah.
“Oh, iya, ya? Te-hee….” Dara sedikit memeletkan lidahnya menyadari kesalahan konyolnya. Tentu saja Mama-Papa ada di Australia. Ia sendiri yang mengantarkan mereka di bandara kemarin.
“Ya udah! Jangan lupa setrikain daster saya ya, Bik?”
“Oh-eh, iya, Non.”

Meninggalkan Bik Ijah, Dara bergegas menuju kamarnya. Bik Ijah bengong saja melihat tingkah nona mudanya ini. Gembira sekali dia hari ini? Namun tak sampai dua detik, sebuah senyum terukir di bibir Bik Ijah.
“Hihihi…, pasti karena Elang…”
Sampai di kamar, Dara langsung mengambil diary dari laci meja riasnya. Hari ini entah mengapa Elang mengajaknya jalan-jalan menikmati sunset di pantai. Lalu habis itu mereka menghabiskan waktu di caféde Rose. Hanya berdua. Romantis, kan? Hihihi…
Dara kembali senyum-senyum sendiri. Pena mungil dengan tutup berbentuk kucing imut Hello Kitty itu ia angkat, ia putar-putarkan di jari-jari tangannya.

Elang…, Dara mengenal pemuda itu setahun yang lalu sejak ia pindah kuliah ke kampusnya. Pemuda kalem yang memiliki tatapan mata yang tajam namun lembut. Dara beruntung bisa dekat dengan Elang karena bangkunya berdekatan. Sejak itulah mereka menjadi sahabat akrab dan sering bersama. Karena kedekatannya dengan Elang inilah, teman-temannya mengira bahwa ia dan Elang jadian. Dara sih justru senang karena diam-diam ia juga memendam rasa pada Elang.

Hei Diary…
Aku bilang hanya sama kamu aja, ya…? Dulu… waktu pertama kali ketemu Elang, meski aku baru mengenalnya, entah mengapa aku merasa bahwa aku telah begitu merindukannya. Aku merasa… seolah-olah hatiku memang diciptakan untuk mencintainya. Seperti ada tangan-tangan gaib yang menanamkannya di hatiku…

Kalau kupikir-pikir sekarang, aneh sekali rasanya… meski aku baru mengenal Elang, tapi aku merasa… aku begitu ingin berada di sampingnya… aku merasa aku tak ingin berpisah dengannya…
Umm… mungkin itu yang orang bilang sensasi ‘cinta pada pandangan pertama’, ya?
Te-hee… :3

Malam terus beranjak pelan menggulirkan rahasia-rahasianya. Mengantar sang gadis yang masih sibuk dengan mimpi-mimpi indah yang ia rajut sendiri. Mimpi indah yang ia percaya akan berlangsung selamanya.

ZZZZTTTT…!!! ZZZTTTT….!!!
restoration at… 12.0098%

Sebuah ruangan luas penuh dengan layar-layar monitor besar dan mesin-mesin futuristik. Numerik-numerik data dan garis-garis statistik dari gambar sesosok tubuh terpampang di layar lcd komputer. Di sekelilingnya puluhan saintis berseragam putih tengah sibuk mengamati perubahan Subjek eksperimen mereka di layar monitor. Wajah mereka terlihat tegang.
Nguung…! Nguung…!
“Warning! Warning! Perimeter broke!”
Bunyi alarm memekik keras. Suasana terlihat kacau.
“Security Program error! Operating System overload oleh serangan virus!” teriak seorang teknisi. “Perimeter area AV0004b jebol! Penyusup berhasil memasuki area AX0008b!”
“Anti Organization!” desis seorang lelaki berkacamata hitam yang memegang komando di tempat ini, Agen X. “Akhirnya mereka nekat menyusup ke kota virtual ini.”
“Status Subject?”
“Jaringan syaraf normal, tapi tingkat restorasi kesadaran subject meningkat drastis. Restoration at…12.009%!” lapor seorang professor. “Log terbaru mencatat, Subject eksperimen mulai mencurigai bahwa perasaan dan ingatannya telah dimodifikasi!”
Agen X menggeram.
“Hubungi Agen E. kita harus mendistorsi kesadarannya. Ia tidak boleh bangun dari kota virtual ini!”

o0o

Berjalan membawa dua buah es krim yang baru dibelinya, Dara menuju ke arah Elang yang menunggu sembari memandangi batas samudera. Lama dekat dengan Elang membuat Dara hafal dengan kebiasaan pemuda itu. Saat sendirian, Elang bisa berjam-jam diam tak bergerak memandang ke batas cakrawala. Seolah sesuatu yang ia cari ada di sana.
Seperti namanya, Elang memiliki pandangan mata yang tajam. Dara sendiri mengakui salah satu daya tarik Elang adalah pandangan matanya yang tajam dan gagah itu. Namun pada saat yang sama, tiap kali melihat tatapan mata Elang, entah mengapa Dara juga merasakan sebuah ketakutan yang tak dipahaminya. Ia seperti merasa pemuda itu bisa tiba-tiba saja hilang, terhisap oleh tangan-tangan gaib yang tak terlihat. Dara tak ingin mengakuinya, tapi ia merasa… hanya orang yang mampu memahami sisi lain Elang itulah yang bisa tetap berada di sampingnya.
“Nih es krimnya.”
“Oh, terimakasih.”
Menerima es krim dari Dara, Elang tersenyum. Langsung melahapnya. Dara pun duduk, sama menikmati es krim vanillanya.
“Hei, Elang…”
“Hm?”
Elang menoleh ke arah Dara. Hari ini ia menemani Dara shopping di mall. Biasanya ia malas ke mall, tapi karena sudah janji, Elang mau pergi. Lagipula, ada hal lain yang ingin Elang lakukan.
“Kamu denger rumor yang banyak kesebar belakangan ini?”
“Huh?” Elang mengernyitkan keningku. “Rumor apaan?”
“Kamu belum denger, ya? Mmm…, iya juga sih, seminggu ini kan kamu di rumah sakit gara-gara kecelakaan,” ujar Dara.
“Rumor apaan sih?” tanya Elang penasaran.

“Hantu…?”
“Ya. Belakangan ini kesebar rumor hantu seorang cewek backpacker berjaket merah. Katanya sih, saat sedang berkeliling di kota ini, cewek backpacker itu tiba-tiba menghilang secara misterius. Orang-orang bilang, dia sudah mati. Tapi arwahnya masih menghantui kota ini dan akan muncul lagi di kota ini pada hari ia menghilang untuk mencari seseorang.”
“Hoo… jadi, hantu cewek itu sekarang sedang berusaha mencari seseorang untuk menemaninya ke alam lain ya, Dara?” Elang mengangguk-angguk. “Trus hantu cewek itu mencari teman yang sama-sama cewek juga, berambut panjang bergelombang, sukanya es krim vanilla, dan punya nama depan ‘D’. D-a-r-a…, hihihihi…!” goda Elang.
Buk!
“Aduh!”
“Iihh…! Jahat! Kan aku cuma ngasih tahu,” sebal digoda, Dara langsung meninju lengan Elang. Elang hanya tertawa saja menikmati tingkahnya itu.
“Hah-hahaha…! Habis…, masak hari gini ngomongin hantu? What cave do you crawling on, Lady?”
“Iihh…! berisik!” melihat Elang masih tertawa, dara makin kesal. “Udah, ah! Aku balik dulu! Kamu banyak istirahat saja di rumah, kan baru sembuh.”
“Hah-haha…, iya, Bu Dokter…,” jawab Elang, masih dengan nada menggoda. Membuat Dara langsung membalikkan tubuhnya dengan wajah manyun dan meninggalkan Elang.
Elang hanya tertawa melihat tingkah Dara. Namun begitu Dara mulai terlihat menjauh, raut wajah pemuda itu perlahan berubah. Tak ada lagi senyum nakal di bibirnya. Pemuda itu bangkit. Sesaat ia memandangi batas cakrawala yang tercipta oleh garis pertemuan samudera dan langit senja. Lalu ia mengarahkan pandangan matanya di trotoar jalan. Di sana, sekumpulan burung merpati liar tengah bercengkerama. Begitu damai. Tak menyadari di seberang lautan sana awan hitam sudah bergulung-gulung memekatkan angkasa.
Elang mendesah pelan.
“Dara…”

ZZZZTTTT…!!! ZZZTTTT….!!!
restoration at… 42.0028%

Dara memeriksa BBMnya. Rumor tentang hantu cewek backpacker berjaket merah ini semakin santer. Tak hanya itu, beredar juga kabar beberapa orang menghilang misterius. Semua orang membicarakannya. Temannya Sherry bahkan mengatakan melihatnya ada di pinggir kota. Ia berpapasan dengan cewek backpacker itu, yang ketika diikuti tiba-tiba hilang di jalan buntu. Entah apa yang akan dikatakan Elang kalau mendengar hal ini, batin Dara.
Ah…, Elang, di mana dia? batin Dara. Ia ingin menemui Elang, tapi beberapa hari ini Elang tak bisa dihubungi. Hp-nya tidak aktif. Di kostnya pun ia tidak ada. Kemana dia?
Berjalan tak tentu arah di antara ramai pejalan kaki di trotoar, tiba-tiba Dara berhenti. Jantungnya berdegup keras. Seratus ratus meter di depannya, sesosok bayangan gadis berjaket merah menarik perhatiannya. Ia berjalan di tengah keramaian pejalan kaki yang menyeberangi zebra cross. Penampilannya benar-benar kontras dengan orang di sekelilingnya. Tapi anehnya, orang-orang seperti tak peduli. Tidak…, lebih tepatnya mereka seperti tidak menyadari keberadaan gadis berjaket merah dengan tas backpacker besar di punggungnya itu!
Dara menahan nafas. Detak jantungnya seperti terhenti. Gadis itu kini berhenti di tengah jalan. Tak salah lagi…, gadis berjaket merah itu… menoleh ke arahnya. Dara terpaku. Jujur saja ia sendiri tak percaya dengan cerita-cerita hantu. Tapi gadis itu… ia berbeda. Ia bisa merasakannya. Gadis itu bukan berasal dari dunia ini…
Ketakutan menyergap hati Dara. Bisikan-bisikan aneh tiba-tiba muncul di kepalanya. Gadis itu… tidak boleh berada di tempat ini… Gadis itu… akan mengambil sesuatu yang sangat berharga miliknya… Tubuh Dara menggigil. Ketakutan yang tak bisa dipahaminya membuatnya menggumam tidak jelas. Bisikan-bisikan aneh makin menghujami kepalanya. Sakit. Sakit. Hentikan…!
“!!!”

Tiba-tiba dari sebuah gang kecil sesosok pemuda datang berlari mengejar gadis berjaket merah itu. Jantung Dara berhenti berdetak. Pemuda itu…, tak salah lagi!
“E-lang…?”
Dara tak lagi ingat apa yang dilakukannya. Ia melayang. Sekuat tenaga ia berlari. Tasnya yang terjatuh tersangkut pagar besi tak ia pedulikan. Sepatu berhak tinggi yang terlempar karena ia mendadak berlari tak dihiraukannya. Perih mengiris di telapak kakinya yang terkelupas dan berdarah. Tapi Dara tak peduli. Diterabasnya kerumunan orang. Dara terus berlari. Terus berlari.
Dara tak memahami apa yang dirasakannya. Tapi entah mengapa ia tahu…, ia tahu pasti jika ia tidak mengejar Elang sekarang, ia akan kehilangan Elang. Ia tak akan pernah lagi bisa bertemu dengan Elang. Ia tak mau itu.
Tapi, kenyataan berbicara lain. Di jalan buntu ini, di tikungan terakhir kali ia melihat sosok keduanya, tak ada siapa-siapa. Mereka hilang bagai ditelan bumi.
Dara terduduk lemas. Bulir-bulir airmata membasahi pipinya. Dara tak mempedulikan tapak kakinya yang berdarah karena berlari tanpa alas kaki di aspal panas. Dara tak peduli jantungnya yang seperti mau meledak karena dipaksa dipompa melebihi batas kemampuannya. Dara hanya ingin bertemu dengan Elang. Dara hanya tak mau terpisah dengan Elang.
“Hiks…! Hiks…! Elang…, Elang…”
Dara menangis. Tak memahami rasa sakit yang kini menghujamnya. Mengiris-iris hatinya. Dara tak menyadari di belakangnya gadis misterius berjaket merah itu datang mendekat entah dari mana.
“Kau…, bisa melihatku?”
“Eh?”

Dara menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Gadis berjaket merah itu!
“Si-siapa kau?” ujar Dara gemetaran. “Di-di mana Elang? Di mana dia?”
“……”
Gadis berjaket merah mengacuhkan pertanyaan Dara. Ia hanya memandangi Dara dengan pandangan menyelidik.
“Jadi…, kau benar-benar bisa melihatku,” gumam gadis itu. “Tapi…, ini mustahil. Something just wrong.Apakah ini ulah Agen ‘E’?”
“Di mana Elang? Di mana kau sembunyikan dia?” teriak Dara. “Cepat katakan! Atau… atau akan kupanggil polisi ke sini!”
Gadis berjaket merah itu terdiam sesaat. Seperti memikirkan sesuatu.
“Huh! Aku tak punya banyak waktu,” desis gadis itu, mengangkat telapak tangannya yang tiba-tiba bersinar terang, membuat Dara silau. “Tidurlah!”
“Hei, a-apa yang kau laku-….”
Zaaappphhh…!!!
Waktu seperti berhenti. Dara tak memahami apa yang baru saja terjadi. Kesadarannya perlahan-lahan memudar. Ia merasa seperti terlempar dalam ruang luas yang gelap. Hanya ada setitik cahaya di kejauhan. Namun, perlahan-lahan cahaya itu meredup dan hilang. Gelap. Pekat.
“E-La-ng…”

ZZZZTTTT…!!! ZZZTTTT….!!!
restoration at… 97.74%… 99.002%… 99.0999%
Dara tak tahu ia berada di mana. Ia pun tak tahu sudah berapa lama ia berada di tempat ini. Hanya ada kegelapan. Hanya ada kehampaan. Dalam situasi yang tak dipahaminya ini, sedikit demi sedikit kesadaran personalnya memudar. Bisikan-bisikan aneh itu makin menguasai kepalanya. Arus informasi demi informasi memenuhi kepalanya tanpa bisa ia cegah.
Dara berusaha menutup telinganya, tak mau mendengar suara itu. Tak mau mengetahui kenyataan itu. Tapi bisikan-bisikan itu terus berdesakan memenuhi memorinya. Memberitahunya bahwa ia tak bisa lari dari kenyataan yang sedang dihadapinya. Tapi Dara tak mau mendengarnya. Dara tak mau mengetahuinya. Ia hanya ingin bertemu dengan Elang. Ia hanya tak mau berpisah dengan Elang.
“Hentikan…! Tolong hentikan…! Aku tak mau mendengarnya…! Aku tak mau mengetahuinya…!” rintih Dara. “Elang…, Elang…, di mana kau?”

ZZZAAAPPPHHH….!!!!

Tiba-tiba sebuah cahaya benderang menyapu kegelapan ini. Di hadapan Dara yang kini melayang di udara dikelilingi cahaya berwarna kehijauan berbentuk rangkaian random huruf berbagai bahasa, angka, dan artikulasi matrix, sesosok pemuda berdiri memandanginya.
“E-lang…?”
Bibir Dara bergetar tak percaya. Tak salah lagi, pemuda itu Elang. Tapi ia tak sendirian. Di sebelahnya, duduk bersender di dinding berwarna putih keperakan, seorang gadis berjaket merah terlihat mengerang kesakitan. Sepertinya ia terluka. Dara tahu penyebabnya. Bisikan-bisikan aneh di kepalanya telah menginformasikan semuanya. Begitu juga dengan seorang lelaki berkacamata hitam yang susah-payah berusaha bangkit di ujung ruangan itu. Tapi semua tak dipedulikannya. Ia hanya ingin bertemu Elang.
“Hahaha…! Kau gagal, cecunguk Anti Organization!” lelaki berkacamata itu tertawa keras. “Lihat! Core System kota ini telah menemukan host-nya yang baru. Sekarang kalian terperangkap di kota ini selamanya!”
“Uughh…!” gadis berjaket merah itu menggigit bibirnya. Ia menatap Dara dengan tatapan tak percaya. “Mustahil…, bagaimana dia bisa menjadi Core System kota ini? Dia hanya sebuah minor data yang diciptakan untuk mempengaruhi emosi dan kesadaran Elang akan virtyal reality ini dengan feminitasnya,” desis gadis itu.

Tak mempedulikan tawa lelaki berkacamata itu, Dara melayang turun. Ia berhenti tepat di hadapan Elang yang berdiri menatapnya dengan sepasang mata tajamnya. Tatapan mata yang tak berubah. Tatapan mata yang ia kagumi itu. Tajam, tapi lembut dan teduh.
Dara mengangkat jemari tangannya, diusapnya darah yang mengalir di bibir Elang. Ia tahu Elang terluka. Bisikan-bisikan di kepalanya itu memberitahunya.
“Dara…”
Tep!

Belum selesai Elang menuntaskan kata-katanya, jemari telunjuk Dara menekan bibir Elang. Gadis itu tersenyum.
“Aku tahu, Elang. Aku tahu semuanya,” ujar Dara, berusaha menekan perasaannya. “Sejak awal kita bertemu, aku tahu dari tatapan matamu itu. Kau selalu menatap ke tempat yang sangat jauh… Kau seperti sedang mencari sesuatu… Karena itulah kau datang ke kota ini, bukan…?”
“Dara…”
Elang kembali menelan perkataannya melihat gadis di hadapannya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum.
“Hihihi…! Dasar bodoh!” ujar Dara. “Sekarang, karena aku telah menjadi host Core System kota virtual ini, aku bisa membaca sedikit pikiranmu, Elang. Kau… tetap saja seperti ini. Meski kau kini tahu bahwa aku tak lebih dari sekedar program data yang diciptakan untuk menidurkan kesadaranmu, tatapan matamu padaku tetap tak berubah…”
Dara menoleh ke arah lelaki berkacamata yang terlihat berteriak-teriak keras memanggilnya namun dihalangi oleh gadis berjaket merah itu. Meski melihat mereka, tapi Elang tak mendengar suara keduanya. Sepertinya Dara memblok kode suara kedua orang itu.
“Kau tahu, Elang…?”
“……”
“Aku…, aku sangat bahagia bisa mengenalmu. Bisa dekat denganmu. Jalan-jalan di pantai bersamamu…, makan es krim bareng…, bercengkerama dan bercanda… Saat-saat itu adalah saat yang paling membahagiakanku.”
“Dara…”

Gadis itu tersenyum. Kilatan cahaya kehijauan yang membungkus tubuhnya makin bersinar terang. Di kejauhan, gadis berjaket merah yang sedang bertarung untuk mencegah laki-laki berkacamata itu mendekat ke Elang dan Dara terlihat sesekali melirik ke arahnya dengan raut wajah yang tegang.
“Kau tahu? Bisikan-bisikan di kepalaku ini memberitahuku jika aku mengiyakan permintaanmu, kamu akan menghilang… kamu akan pergi jauh dariku… Dan…, aku sungguh tak mau itu…”
Elang tak kuasa mengucapkan kata-kata. Sorot matanya yang tajam luruh. Meski gadis berjaket merah itu sudah memberitahunya bahwa Dara tak lebih dari sebuah program data digital, tapi ia tak bisa menghilangkan rasa pilu yang bergejolak hatinya.
Dara mendekat, menyandarkan tubuhnya di dada bidang Elang yang bergeming dari tempatnya. Cahaya kehijauan yang mengelilingi tubuhnya itu kini perlahan menjalar ke tubuh Elang.
“Aku… aku benar-benar tak ingin berpisah darimu, Elang…” gumam Dara sembari memejamkan kedua matanya. Tak menyadari bulir-bulir bening airmata mengaliri kedua pipinya. “Tapi…, aku tahu tempatmu bukan di sini… aku tahu ada sesuatu yang harus kau lakukan, bukan?”
“Da-ra…” desis Elang. “Kau… yakin akan melakukan ini?”
“Hihihi…, entahlah…,” Dara makin erat memeluk tubuh Elang. Cahaya kehijauan itu makin bersinar terang menelan keduanya. “Aku sendiri tak tahu perasaanku. Aku hanya sebuah program artificial intelligent. Semestinya aku bahkan tak punya emosi. Aku sendiri tak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak. Aku hanya… sangat bahagia tiap berada di dekatmu… Aku hanya… tak ingin berpisah darimu…”
Elang menggigit bibirnya. Hatinya makin teriris pilu melihat senyum Dara di pelukannya. Perlahan pemuda itu mengangkat kedua tangannya, memeluk erat tubuh Dara yang mulai memudar tertelan oleh cahaya kehijauan ini.
“Terimakasih…, Dara…,” ujar Elang dengan suara bergetar. “Maafkan aku…”
“Hihihi…, kau tidak melakukan kesalahan, Elang. Kau tak perlu minta maaf padaku,” Dara tersenyum. Makin erat memeluk Elang. Gadis itu memejamkan kedua bola matanya yang basah oleh air mata rapat-rapat. Seolah hendak menikmati saat-saat terakhirnya ini. “Elang…, kau tahu? Aku sangat mencin-…”
“!!!”

ZAAAAPPPHHHH….!!!!
Belum selesai Dara mengucapkan kalimatnya, cahaya benderang menelan tubuh keduanya. Menelan semua yang ada di ruangan luas ini.

o0o

Elang membuka kedua matanya. Bunyi mesin dan guncangan-guncangan ini, ia berada di dalam sebuah mobil?
“Oh, sudah bangun, Elang?” sebuah suara yang ia kenal, Elang menoleh ke arah sosok wajah seorang gadis berambut pendek dengan jaket merahnya itu. “Jangan memaksakan diri, Elang. Kau baru bangun. Tubuhmu yang dibekukan oleh Organization sebelum kesadaranmu ditransfer ke kota virtual masih butuh waktu untuk berfungsi normal.”
“?”
“Kau benar-benar genius, Elang!” ujar gadis berjaket merah itu. “Kau sengaja tertangkap agar bisa menyusup masuk ke Virtual Fortrees, kota virtual milik Organization dan mendapatkan data rahasia yang kita incar. Aku sempat cemas saat tahu kesadaranmu dimodifikasi oleh Organization sampai aku meng-hack sistem mereka dan menyebarkan rumor ‘hantu backpacker’ agar kau mendengarnya dan terpicu untuk bangun. Tapi akhirnya kau bisa sadar dan sukses menyelesaikan misimu.”
“…….”
Elang merasa pening. Kesadarannya belum sepenuhnya ia genggam. Organization? Kota virtual? Ah ya…, Elang ingat… itu semua memang strateginya. Tapi apa ini? Mengapa hatinya merasakan kepedihan yang aneh? Ia merasa ada sesuatu yang ia lupakan. Sesuatu yang sangat penting.
Melihat wajah Elang yang terlihat kesakitan berusaha mengingat-ingat sesuatu, gadis berjaket merah itu terlihat khawatir.
“Ukhh…! Rupanya efek perpindahan kesadarannya masih belum sempurna. Syaraf otaknya masih terpengaruh efek kota virtual,” desis gadis itu. Ia segera mengambil sebuah alat suntik berisi obat penenang dan menyuntikkannya ke lengan Elang. “Elang, istirahatlah dulu. Jangan banyak berfikir.”
“A-Ahh…, tunggu…” rasa kantuk menyerang Elang. Namun pemuda itu sekuat tenaga berusaha melawannya. Hatinya terbebani oleh rasa perih yang tak dipahaminya. Ia tak tahu kenapa. Samar-samar bayangan seraut wajah berkelebat di benaknya. Seraut wajah seorang gadis yang tersenyum memeluknya dalam cahaya kehijauan sambil menangis…
“Da-ra…”
“!!!”

Mendengar ucapan Elang sebelum pemuda itu jatuh tertidur oleh obat penenang yang disuntikannya, gadis itu terkejut. Ia memandangi wajah Elang dengan pandangan heran.
“Mustahil…!” desis gadis itu. “Elang…, dia ingat Dara? Elang bisa bangun hanya karena Dara yang menjadi Core System kota virtual menghapus sisa ingatan palsu yang dimodifikasi Organization tentangnya. Basically, Dara tak hanya menghapus eksistensi dirinya sebagai program data, ia juga menghapus ingatan Elang akan dirinya agar Elang bisa bangun dengan kesadaran sempurna!” Gadis itu menatap wajah Elang yang sudah tertidur. Lalu menggumam pelan. “Jika bukan memorinya…, jiwanyakah yang ingat…?”
Mobil van yang membawa Elang terus melaju menuju ke luar kota. Membawa ingatan Elang akan sosok seorang gadis yang menangis di pelukannya dalam cahaya kehijauan perlahan-lahan memudar. Tercerabut sedikit demi sedikit dari sudut memorinya. Namun meski memorinya tak bisa mengingatnya, relung terdalam jiwanya tahu, nama gadis itu tak akan pernah ia lupakan. Nama itu akan terpatri erat di kedalaman jiwanya.

Selamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s