Gebetan Udah Jadian Ama Cowok Lain…??? (Bag. 2)

kemarin, habis ngerjain UAS filsafat, aku langsung ngacir ke kantin buat ngabisin sisa yoghurt buah yang kusimpan di kulkas kantin. baru sampai di pintu, tiba-tiba ada satu mahasiswi cantik interupsi, dan tanpa basa-basi langsung memulai diskusi ‘hot’. mahasiswi cantik ini dengan penuh semangat 45′ bilang bahwa ia tidak setuju dengan status yang kutulis kemarin tentang alasanku tidak mau ngejar2 cewek yg sudah punya ikatan (pacaran/ta’aruf, ato apa kek istilahnya…) dgn cowok lain, tapi belum sampai ke ikatan formal (menikah) dengan alasan, sebagai pencinta keindahan, meski bisa-bisa saja, aturan mainku menghalangiku untuk mengurangi salah satu elemen kecantikan inheren si gadis; kesetiaannya.

dengan menggebu-gebu ia langsung mengajukan premisnya bahwa, menurutnya, ketika seorang wanita menjalin ikatan dengan seorang laki-laki (dalam bentuk ikatan yg belum sampai ke ikatan resmi; menikah), sebenarnya ia sedang dalam masa penjajakan, ia sedang dalam proses saling memahami dan mendalami kecocokannya dengan si pasangan untuk ke depannya. baik itu kecocokan visi, misi, fisik, logistik, juga sinkronisasi emosi. mungkin istilahnya, biar tidak membeli kucing dalam karung gitu lah…! : D karena itu, ketika ia masih ‘lirik’ kanan kiri, bukan berarti si wanita tidak setia, pungkasnya.

aku cuma mengangguk2 mendengarkan pemaparan mahasiswi cantik ini. jujur saja menurutku itu adalah pemikiran yang bagus dan cerdas. seorang wanita memang harus teliti dan dalam menentukan pilihannya biar tidak menyesal di kemudian hari. jangan cuma terbawa emosi kewanitaan sesaatnya sehingga lupa mempertimbangkan elemen2 lain yg lebih penting bagi masa depannya.

tapi mengenai ‘kesetiaan’, mungkin aku sedikit berbeda dengannya…

menurutku pribadi, alasanku meniscayakan ‘kesetiaan’ seorang wanita harus terjaga (dan dijaga), tak hanya krn ia adalah salah satu unsur inheren keindahan/kecantikan wanita (yg jd prasyarat mutlak bagi seorang pengagum dan pencinta keindahan sepertiku. ehm). lebih dari itu, ia adalah barometer karakter dan kualitas jiwa si wanita yg harus dijaga. dalam sebuah ikatan (penjajakan; pacaran/ta’aruf) antara pria dan wanita, meski lebih seringnya cuma sekedar gombal-gombalan dan goda-godaan gak jelas dan janji-janji omdo buat ngrayu si cewek/cowok, tapi di situ ada sebuah kesepakatan yg pasti dibuat keduanya. penggombalan2 ‘hanya kamu cintaku,’ ‘kaulah segala2nya bagiku’ (ciee….), ‘aku akan setia selamanya’, ‘tanpamu hampa terasa hidupku,’ (uhk…!) ‘cintaku padamu cinta yg suci dan murni (padahal sih lebih murni bensin motorku…: P’ dan banyak lagi penggombalan2 klise lainnya adalah sebuah bentuk kontrak/kesepakatan antara keduanya.

segombal dan sekonyol apa pun itu, bagiku tentu sangat bermasalah jika seseorang yg sudah mengikatkan diri pada kesepakatan yg telah dibuatnya ternyata tidak memegang janjinya. apalagi jika ia adalah wanita. yg secara natural bersifat setia. tak hanya nilai kecantikannya yg merosot jatuh, karakternya jelas sedang terjun bebas kalau ia melakukan ini. dan… itu jelas sangat tidak indah… -__-
itulah alasan tambahanku kenapa kutulis statusku yg lalu itu, mahasiswi cantik. tapi kalau mau nglanjutin diskusinya, kali aja kamu punya argumen2 lain yg lebih kuat, you’re welcome. : )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s