“Cinta Monyet”

di keramaian sebuah kota
seorang pemuda hentikan langkahnya
di gemerlap pasar malam, ia melihat mereka
muda-mudi bercumbu-rayu
berputar-putar di komidi putar

“hei…, mengapa kau berhenti?” tanya sang gadis.
“umm…,” si pemuda garuk-garuk kepala. “mungkin… aku iri?”
“pada kemesraan mereka?”
“pada ketidaktahuan mereka.”
“kau menyesali pengetahuanmu?”
“aku menyesali ketidaktahuanku.”
“di masa lalu?”
“ya.”
“apakah itu penting bagimu?”
“tidak terlalu, sih…”
“lalu?”
“well…, itu akan jadi pengalaman yang menarik, bukan?”
“oh ya?”

sang gadis kerjapkan mata
menatap ke arah cakrawala di ujung perjalanan
jemari lentiknya labuh di lengan si pemuda

“hei…, ayo kita lanjutkan perjalanan kita.”
“ah, yah…! tentu.”

si pemuda langkahkan kaki
tanggalkan hiruk pikuk pasar
ikuti kepak sayap sang bidadari

dalam hening
dalam bening.

11:59 AM7 Des 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s