“Rindu”

seorang pemuda berhenti di sebuah kota
duduk di bangku kayu taman
ia lihat orang-orang lalu-lalang
di pasar, di masjid, di kampus.

“suteki, ne?”
“?”

si pemuda menoleh
sang gadis kini duduk
di sebelahnya

“kau dengar tiap bunyi ketukan langkah, suara nafas, detakan-detakan nadi, dan simfoni mimpi-mimpi yang mereka rindukan itu?”
“mereka tak menyadari apa yang mereka kejar dan rindukan, bukan?”
“justru menunjukkan betapa kerinduan mereka amatlah dalam, bukan?”
“well…, tentu saja. rindu itu tertanam dalam di jiwa mereka sejak awal mula penciptaan.”
“bukankah itu indah?”
“?”
“kerinduan itu.”
“tentu.”

sang gadis tersenyum manis
ditatapnya dalam-dalam mata sang pemuda
mata yang tajam, mata yang ditawan hasrat rindu

“kau juga…”
“?”
“merindukannya, bukan?”
“….”

si pemuda menatap sang gadis
mencoba menyelami jernih bola mata bidadari itu
lalu mengulum senyum.

“bagaimana tidak? bukankah karena itu kau ada di sini, Hime…?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s