“Setelah Hujan…”

hujan semalam telah reda
di jalanan becek seorang pemuda terpeleset
tersungkur, terkubur lumpur

“hei…, ayo bangun,” ujar sang gadis, ulurkan tangan. “bersihkan dirimu di telaga itu.”
“….”
“hei…, mengapa kau diam?”
“mungkin… aku menyesal?”
“apa yang kau sesali?”
“penyesalan.”
“penyesalan?”
“yang terus kuulang.”
“dan mengapa kau terus mengulanginya?”
“karena aku bodoh dan keras-kepala, bukan?”
“aku tidak berfikir seperti itu.”
“hah-ha…, kau memang selalu seperti itu,” si pemuda tertawa. getir. “lihatlah! aku…, aku selalu saja seperti ini…”
“hei…, kau tidak boleh seperti itu,” sela sang gadis, terlihat khawatir. “mengapa kau berpikir seperti itu? itu semua tidak ada. belum ada, tidak ada, dan tak akan ada. dan kau tahu itu, bukan?”

si pemuda menunduk
menatap gumpalan-gumpalan lumpur
yang mengotori telapak tangannya, kakinya, wajahnya, pakaiannya.
lalu ia mendongak, menatap sang gadis

“hei…, ayo bangun,” sang gadis tersenyum. ulurkan tangan mungilnya. “biar kubersihkan pakaianmu. telaga jernih tidak jauh dari sini.”

si pemuda diam sesaat.
agak ragu ia menyambut uluran tangan sang gadis.
dadanya menyesak saat menyadari lumpur di tangannya kembali mengotori tangan pualam sang gadis.
entah untuk keberapa kalinya…

“maafkan… aku…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s