Sebelum Nembak si Gadis Manis

ini dialog (tentu diedit) dgn temenku yg peduli banget saat aku mo nembak si gadis manis. walo pun agak gimana… gitu, tapi thank’s eniwei bro, atas obrolannya. hehe… : P

neutral-feel-like-a-sir-clean-luka : “hei, kamu serius, nih?”
aku : “loh? emang kamu kira aku gak serius mau nembak si gadis manis?”
uka : “bukan itu. maksudku pake strategi tanpa strategimu?”
aku : “oohh…, tentu saja. why not?”
uka : “kau tidak berfikir sedang melanggar hukum alam, nih? segala sesuatu itu kan ada aturan, sistem, dan itung2annya. melempar dadu sambil ngandelin hukum determinasi dan untung-untungan ‘nasib’ yang gak terukur jelas melanggar ideologi rasionalitasmu, kan?”
aku : “well…, i think you just misunderstand me a little, my friend.”
uka : “?”
aku : “tentu saja aku tunduk pada hukum logika. aku juga mengakui hukum natural, sebab-akibat, dan semua rezimnya.”
uka : “lalu, kenapa masih berkeras kepala kayak orang bodoh yang gak paham sistem kerja alam aja?”
aku : “hah-ha…, aku memang bodoh. dan justru karena aku tahu aku orang bodoh lah maka aku bertindak bodoh. karena kebodohan adalah senjata terbaikku sekarang .”
uka : “haihh…, jangan berfilsafat denganku sekarang. to the point aja!”
aku : “hahaha…! lah, justru itu poinnya, bro! secara natural, kau tahu apa senjata utama laki-laki untuk mendapatkan wanita? bukan kepintaran si laki-laki, sebaliknya, justru kebodohan si laki2lah senjata terkuat dan modal terbesarnya. lagipula…”
uka : “?”
aku : “tadinya aku mau terus nggombal. tapi kau tahu itu tidak cocok dengan karakterku. biarlah orang menilaiku bodoh atau apalah, tapi aku ingin dia melihatku apa adanya saja.”
uka : “oke-oke…! i get your point. tapi sbg temen, aku cuma mau ngingetin aja.”
aku : “haha…, makasih atas perhatianmu. tapi kawan…, jangan mengurung diri di kamar sempitmu, lah! tentu saja logika itu raja, tapi karena ia raja, kau harus tahu bahwa ia berjarak, menjauhkan, dan tak mau terikat, kan? dan bagaimana pun ia tetaplah hukum di bawah hukum.”
uka : “hoo…”
aku : “lagipula…”
uka : “?”
aku : “kau tahu aku. madzhabku emang madzhab logika. tapi ketimbang seorang rasionalis, aku ini lebih suka mendefinisikan diriku sebagai seorang estetis-intuitif.”
uka : “haihh…! ya-ya…, kamu emang sub-spesies gak jelas fashl dan jins-nya.”
aku : “hahaha…! makasih atas pujiannya… ; ) ”
uka : “aku tidak sedang memuji, tahu!” (menghela nafas) “but seriously…, memang kau pikir si dia terbaik buatmu.”
aku : “well…, tentu saja aku tidak tahu.”
uka : “kau tidak tahu…!!?”
aku : “lah, emang aku tahu dari mana? kalo dikit-dikit sih bisa lah bikin analisa. tapi aku kan gak bisa ngramal masa depan dengan kelindan variablenya yang tak terbatas!”
uka : “lalu dari mana kamu punya rasa pede segede ini?”
aku : “dari rasa cinta lah! dari mana lagi?”
uka : “hanya itu?”
aku : “ya…, kurang lebih. selanjutnya kuserahkan pada al-bada’. kan mesti gitu, bro…!”
uka : “haihh…, nyerah aku ngomong ama kamu. good luck aja deh!”
aku : “haha… makasih-makasih… : D “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s