“HANYA”

seorang pemuda duduk tercenung
di bawah pohon cemara ia merenung
tentang ragu yang melembayung

sang gadis pun tersenyum
mendekat dengan langkah anggun

“hei, apakah kau kecewa?”
“?”
“tak jadi kau petik sekuntum bunga.”
“hmm…, mungkin…?”
“hihihi…, mungkin?”
“haha…, ia hanya, bukan?”
“oh, begitukah? kau yakin…?”
“hei-hei, kau ingin menggodaku, gadis cantik?”
“umm… mungkin juga…”
“?”

sang gadis tersenyum
ditatapnya dalam-dalam mata si pemuda

“benarkah ia hanya bagimu?”
“well…, kupikir begitu.”
“lalu…, apakah kau pun cuma, bagimu?”
“!?”
“dan apakah aku pun, sekedar, untukmu?”
“….”

si pemuda tertegun
kata-kata sang gadis membangunkannya
dari kembara angan kosongnya

“apakah dia, kamu, aku, mereka dan kita tak lebih dari ‘hanya’, ‘cuma’, dan ‘sekedar’ bagimu?” lanjut sang gadis, tersenyum manis.
“…”
“atau apakah kau berpikir ‘hanya’, ‘cuma’, dan ‘sekedar’ itu ada bagi mereka, bagi dia, bagimu, bagiku, dan bagi kita?”
“hah-ha…” si pemuda garuk-garuk kepala. menyadari kekeliruannya. “oke-oke…, maafkan aku, Tuan Putriku. betapa bodoh dan lemahnya aku.”
“hihi…, dan kau pun masih berpikir bahwa bodoh dan lemah itu ada?”
“hahahaha…!” si pemuda nyengir. “duh, ampuni aku, Tuan Putriku…, i give up, okay? i give up!”
“hihihi…”

sang gadis tertawa kecil
si pemuda garuk-garuk kepala sambil nyengir
lalu keduanya lanjutkan cengkerama jiwa

namun tentu, bukan hanya. ; )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s