FATIMAH (Part. 1)

bidadari-jilbab4

“aku penasaran. pernahkah kau jatuh cinta?”

eri tidak menatapku. mata pemuda berwajah tirus dengan rambut kriwilnya itu menerawang keluar jendela kamar yang terbuka. tapi pertanyaannya cukup untuk membuatku yang sudah terkantuk-kantuk begadang di kursi bambu menunggu donlodan ‘5 Centimeters per Second’ Bluray ver. kelar, membuka sedikit kelopak mataku.

“jatuh cinta, huh…?”

aku menyeringai. ada apa nih si playboy ini tiba-tiba nanya soal cinta segala? mau tobatkah ia gara-gara kemarin bertengkar sengit dengan pacarnya si hana karena kepergok jalan ama cewek lain? Eri, sobatku yang berdarah Sunda ini entah sudah berapa banyak menjalin hubungan dengan wanita. biasa, playboy kelas mujaher. mungkin ia sudah layak dapat gelar PHd dalam bidang ini. satu sisi karakternya yang tidak aku sukai karena aku yang lumayan (begaya) gentlemen ini memang benci dengan ide menjalin hubungan dengan wanita hanya untuk main-main. tentu saja karena ini eri selalu mengkritikku terlalu konvensional, kolot, dan jaim. but it can’t be helped. this is my way. my choice. walau pun, di sisi lain jujur saja aku lumayan iri dengan ideologi hidupnya ini yang membuatnya dikelilingi banyak gadis-gadis cantik, minimal yang semi cantik. maklum, lama ngejomblo… -__-

tapi jatuh cinta, huh? pertanyaan yang menarik. bahkan bagiku sendiri. apakah aku pernah jatuh cinta? suka pada si gadis manis tentu saja pernah. ada beberapa gadis yang memang kusukai. dua-duanya di masa puber. satu di SMP, dua di SMA. dua-tiganya cantik dan manis. oh ya, di kampus juga ada. tapi kucintai? entahlah… yang cukup menyusahkan memang karena aku punya ta’rif sendiri tentang cinta yang sedikit banyak berbeda dengan definisi kebanyakan temenku. menurutku, definisi cinta mereka terlalu sinetron-minded banget alias terhipnotis romantisasi drama Korea, Jepun, Cina. ato yang lebih tragis, kena pelet si vampire disco di Twilight itu. padahal mau dinarasikan ato disimbolkan semanis dan seindah apa pun, selama itu antar gender, ya pasti hubungannya transaksional; tak lebih dari hubungan barter, tawar-menawar, jual dan beli. tidak salah memang, karena itu natural. tapi jelas omong kosong gombalan cinta suci cinta sejati selama urusannya gumpalan daging dan lendir. karena itulah aku selalu membedakan antara ‘suka’ dan ‘cinta’. mungkin agak sedikit filosofis, tapi sebenarnya sangat sederhana. dan selalu kukatakan pada gadis yang kusuka. “aku suka kamu. tapi aku tidak cinta kamu. aku ingin mencintaimu.”

well…, tentu saja kebanyakan cewek tak bisa menerimanya. biasa, sifat alami wanita itu kan cenderung disetir ‘rasa’, bukan ‘logika’. ingin menjadi ratu di hati pria, bukan dibatasi oleh pagar logika. eri sendiri selalu mengatakan bahwa alasanku lama ngejomblo bukan karena aku gak bisa nggombal, tapi karena aku males bohong dikit alias ogah berpura-pura di depan wanita. well…, i know exactly he’s damn right. but technically, it’s very effective, really. it will not burden you heavily for your own good… i can guarantee that… : )

tapi tentu saja…, aku memahami dan memakai prinsip ini setelah lulus SMA siih…, setelah beberapa lika-liku dan bertemu dengan beberapa guru. sebelumnya ya, kayaknya gak ada beda dengan cerita cinta-cintaan anak remaja ala simpanse ituh… -__-

“dalam hidupku…”
“hum?”
mendengar perkataanku, eri menoleh.
“aku menyukai beberapa gadis… ada yang cantik, ada yang manis.”
“hoo…?”

eri membulatkan mata sipitnya tampak ingin tahu. aku memang jarang bicara tentang masa laluku. terlebih soal perempuan. entah sudah berapa tahun aku tidak menjalin hubungan khusus dengan lawan jenis. aku sendiri tak tahu sebab pastinya. tentu berbeda dengan eri yang bandot ini. kami biasanya sih lebih banyak akrab karena diskusi-diskusi agak intelektual dikit, kegiatan rutin kantor LSM tempat kami tinggal, demo-demo di depan Kedubes setan besar Amerika, membuat makalah kuliah bersama, jadi panitia di kegiatan-kegiatan sosial, dan sejenisnya. ya…, kadang-kadang kita debat dan berantem sengit dengan segala macam dalil dan argumen soal dunia asmara juga sih. maklum, secara ideologi, madzhab cinta kami kan beda.

bersandar di bantal yang kuembat dari kamar, aku memejamkan mataku. kelebat masa lalu tiba-tiba saja menyergapku. di kota kelahiranku, Wonosobo yang dingin, kecil, dan berkabut itu. kota kecil yang sangat istimewa bagiku. bukan karena Wonosobo adalah kota kelahiranku, tapi lebih karena Wonosobo adalah kota tempat aku bertemu dengannya. seseorang yang sangat spesial bagiku. seorang gadis yang cantik, sahabat yang tulus, guru yang bijak dan mursyid pertama dalam lembar kehidupanku. ia adalah titik yang menjadi poros lingkaran kehidupanku dalam absurditas alam esensi yang menjauhkan dan terlepas dari ikatan ini…

kartun-jilbab-2pertama aku bertemu dengannya saat aku masih kecil. aku masih kelas 4 SD saat itu. ya…, sekitar umur 9 tahunan. saat itu menjelang Lebaran. aku ikut Emakku ke pasar Kretek untuk beli sendal baru. di tengah hiruk-pikuk dan ramainya pasar, aku bertemu dengannya. seorang anak perempuan bermata bulat jernih, bibir tipis, dan senyum yang manis. umurnya sekitar 7 tahunan. jilbabnya yang agak kebesaran menutupi kepala mungilnya putih bersih. bajunya juga putih. ia sedang bermain, menoleh ke sana-kemari dengan kepala agak dimiringkan dan diangguk-anggukkan. jari-jari mungilnya ditekan ke bibir seperti seorang ilmuwan sedang menganalisa objek eksperimennya dengan wajah penuh antusias dan terkagum-kagum. ke arah lalu-lalang orang-orang, ke arah macam-macam barang yang dipajang di lapak-lapak pasar. kadang ia berjalan berputar-putar, menyentuh satu-satu barang-barang dagangan di lapak sampingnya penuh rasa ingin tahu. kadang ia melompat-lompat kecil berusaha menggapai barang yang digantung di lapak yang tak dijangkaunya. dan kadang ia berlari dan mendekap kaki seorang wanita berkerudung lebar yang sedang berbelanja. yang dengan lembut membelai kepala mungilnya. sepertinya itu ibunya.

selama beberapa menit aku menikmati pemandangan yang entah mengapa begitu menghisapku ini. lalu tiba-tiba pandangan mata kami bertemu. kami saling menatap sepersekian detik dalam keterkejutan momentum. waktu terasa berhenti saat itu. ada sesuatu yang aneh kurasakan. seperti, aku telah lama mengenal pandangan mata itu. seperti aku telah begitu lama merindukannya. lalu, seperti sebuah keajaiban, sebuah senyum merekah di bibir mungil gadis kecil itu. ia mengerjapkan sepasang mata kejoranya sembari menggerak-gerakkan bibirnya mengucapkan sesuatu. namun aku tak mendengarnya. pasar ini terlalu bising untuk berbaik hati mengantarkan resonansi suara anak kecil seperti kami. lalu tiba-tiba ia berbalik, ibunya memanggilnya. tangan mungil gadis kecil itu pun kini menggandeng tangan ibunya. aku masih diam, masih tenggelam akan kemenakjuban ini ketika ia berpaling, lambaikan tangan mungilnya padaku. lalu menghilang sempurna di antara kerumunan orang-orang.

aku tak bertemu lagi dengannya selama bertahun-tahun. namun potret wajah, senyuman, dan tingkahnya yang lugu itu terpatri kuat di benakku. di alam bawah sadarku. hingga saat ini.

lalu aku beranjak masuk MTs di Selomerto. meski pun nilaiku agak lumayan, selalu kejar-kejaran dengan juara kelas, tapi aku bukan siswa teladan. aku masih belum mengerti arti pentingnya belajar. belajar hanya kubuat mengisi waktu. hasrat bermain-main dan bersenang-senang masih mendominasi amygdalaku. tidak seperti teman-teman sekelasku, aku yang penyendiri lebih suka menghabiskan waktu untuk main ding-dong. hampir tiap pulang sekolah aku tidak langsung pulang ke rumah, melainkan main ke kota. kadang sampai malam. di sana aku bersahabat dengan teman-teman gamer lainnya, Erka, Wiwied, Sis, Made, dan gamer-gamer lainnya. kadang aku menginap di masjid Jami’ Wonosobo, kadang aku pulang ke rumah bibiku di Selomerto.

kartun-akhwat (1)lalu keajaiban kembali mempertemukan aku dengannya. saat itu bangjo yang biasanya ramai oleh para pengamen sepi. tak ada orang. aku beristirahat kecapekan setelah main ding-dong di Olympic bareng Erka cs. dan di ujung jalan, di bangjo Rita Pasaraya, berjilbab putih lebar dengan gamis hijau lembut menutupi tubuhnya, ia di sana. aku terkejut. aku tak tahu bagaimana, tapi aku begitu yakin bahwa itu dia. ia telah menjadi sesosok gadis remaja yang cantik. sangat cantik malah. matanya tetap bulat dan jernih seperti dulu. kulitnya putih bersih, dengan pipi agak kemerah-merahan oleh dingin udara pegunungan ini. namun cara jalannya sudah berubah. tak lagi melonjak-lonjak riang seperti dulu. ia berjalan dengan langkah kaki pelan, seperti melayang. irama langkahnya ritmis, manis. wajahnya menunduk saat berjalan, dengan tangan kanan memegang sebuah buku yang ia peluk di dadanya. umurnya mungkin tak lebih dariku, tapi aku bisa merasakan aura keanggunan dan keteduhan yang entah mengapa terasa sangat akrab. sangat kurindukan. aura yang aneh, yang tak kutemui pada remaja-remaja putri seumurannya yang kukenal.

beberapa detik aku terpana melihat kemenakjuban itu kembali menguasaiku. dan seperti mengetahui sedang kupandangi, tiba-tiba gadis itu menghentikan langkahnya. diam sesaat, dan menoleh ke arahku. tatapan mata kami kembali bertemu untuk sepersekian detik. bisa kulihat sepasang bola matanya yang jernih itu sedikit melebar melihatku. ia sedikit menundukkan kepalanya ke arahku dengan senyum manis terukir di bibir tipisnya. dia tersenyum. tersenyum kepadaku.

aku masih terpaku. tak bisa bereaksi. meski saat ia melambaikan tangan kepadaku. aku menoleh ke kanan ke kiri, mungkin ada orang lain selainku di sini. tapi tak ada orang di sini. dia…, ingat aku? melihatku yang tak bereaksi, hanya terpaku menatapnya, gadis itu sedikit menggelengkan kepalanya ke samping kanan sambil mengerjapkan mata menunggu. namun melihatku yang masih kebingungan, ia menganggukkan dagunya sedikit mengisyaratkan ingin melanjutkan perjalanan. meninggalkanku yang masih terpana…

sejak saat itu aku makin rajin bolos dan main game di ding-dong. jarang pulang, dan suka nongkrong di perempatan bangjo. tentu saja, orangtuaku jadi tambah juga sering marah-marahnya… -__-

……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s