FATIMAH (Part. 2)

bidadari-jilbab4sekian minggu bolos main dingdong menunggu-nunggu gadis bermata bening itu lewat bangjo Rita Pasaraya dengan hasil nihil, secara tak sengaja kami bertemu di alun-alun kota. duduk bersimpuh di pojok timur alun-alun yang rimbun dipayungi barisan pohon beringin raksasa, ia membaca buku. aku juga sedang membaca buku saat itu. cuma bedanya buku yang kubaca itu komik.

aku pun menyapanya. meski agak grogi dan salting dikit, kami berbincang, bercengkerama. aneh sekali rasanya. seperti kami sudah begitu lama saling mengenal. dan seperti, aku sudah begitu lama merindukan perbincangan ini. kami bicara banyak hal, tentang buku yang kami baca, tentang kabut dingin, tentang dataran Dieng yang kian gundul, tentang embun pagi, tentang semua hal. begitu asyiknya kami bercengkerama sampai aku lupa menanyakan siapa namanya. dang! stupid me… -__-

untungnya ia cerita kalau ia sering ke Perpustakaan Kabupaten untuk meminjam buku. biasanya sekitar satu atau dua minggu sekali. di pertemuan selanjutnya, aku pun akhirnya bisa menanyakan siapa namanya.

namanya Fatimah. Hanya Fatimah. tidak kurang, tidak lebih. ia cantik. sangat cantik malah. jemari tangannya lentik. kulit wajahnya putih bersih. tapi jelas bukan putih hasil kosmetik. cukup untuk membuatku menyimpulkan dna yang ia warisi bukan murni dna kulit coklat ras jawa. wajahnya bulat oval dengan dagu agak lancip, hidung mancung, bibirnya tipis dan basah tanpa lip gloss, juga alis mata yang rapi seperti kepakan burung camar di cakrawala senja. namun yang paling menakjubkan adalah bola matanya yang jernih, bening seperti air telaga Warna di Dieng, di ketinggian 2.093 meter dari permukaan laut itu. bola matanya hitam pualam. sangat indah. apalagi saat retinanya memantulkan berkas-berkas cahaya yang menyinggahinya.

kami kemudian menjadi sering bertemu dan bertukar cerita. kadang kami bertemu di alun-alun, dinaungi rimbun pohon beringin raksasa, kadang di sudut perpustakaan, kadang di tangga Masjid Jami’, kadang di samping gedung Sasana Adipura Kencana yang saat itu belum dibangun gedung di bawahnya hingga pemandangan di kota kecil lereng gunung Sindoro itu terlihat tanpa halangan. yang jika malam, lampu-lampu rumah penduduk terlihat seperti kerlipan bintang. tapi kami tidak sering-sering amat ketemu. sulit sekali sebenarnya menentukan momentum menemuinya. kadang dua minggu sekali kami bertemu, kadang sampai tiga minggu dia muncul di perpustakaan meminjam buku. saat-saat seperti inilah relativitas waktu Einstein menjadi benar-benar sangat menyebalkan bagiku.

Fatimah adalah gadis bersahaja namun menyimpan banyak rahasia. tapi mungkin karena itulah aku begitu terpesona padanya. bibirny selalu mengukirkan senyum, yang jika tanpa senyumnya itu aku mungkin tak pernah mampu memulai pembicaraan dengannya karena anggunnya ia. cara bicaranya pelan. nada suaranya selalu stabil. bahkan saat ia tertawa atau saat ia terkejut. saat berbincang dan mengutarakan pemikirannya, ia biasanya memulai dengan pertanyaan, dan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan pula. saat ia tahu aku masih suka menghabiskan waktu bermain game di rental berjam-jam, bahkan sampai malam, ia tak langsung mengkritikku. tapi bertanya padaku. untuk cari aman, aku pun ikut-ikutan gaya bicaranya itu, menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan untuk menghindari jawaban. tapi biasanya selalu berakhir dengan skak-matnya memojokkanku di jalan buntu tauriyah. dan sukses membuatku nyengir sambil garuk-garuk kepala. dan biasanya ia hanya tersenyum menatapku. sesekali tertawa kecil melihatku yang kibarkan bendera putih tinggi-tinggi, gara-gara kehabisan amunisi untuk ngeles… -__-

kartun muslimah 2 Fatimah paling suka menatap langit dengan gumpalan awan putihnya. juga saat malam dengan bintang-bintangnya (kadang kami bertemu malam hari). lalu biasanya ia bercerita tentang sebuah negeri nun jauh di sana sembari menyitir syair-syair Rabi’ah, Sa’di dan Hafidz. ia sering mengatakan padaku hal-hal yang tak kupahami maknanya. dan baru kumengerti sekarang-sekarang ini setelah aku memperbanyak membaca literatur-literatur buku dan bertemu beberapa guru. pada saat-saat seperti ini, entah mengapa aku selalu merasakan rasa sakit yang tak bisa kupahami. mirip dengan rasa cemburu yg berkelindan dengan rindu, marah, benci, pedih… (arrgghh…! aku benar-benar tak bisa memahami dan mendefinisikannya! hingga saat ini.) saat itu aku seperti melihat dirinya yang lain, ia yang tak berpijak di tanah yang kupijak. ia yang terbang ke langit tertinggi. ia yang ada di sisiku, namun aku tak ada di sisinya. ia yang ada di depanku, namun aku tak berada di hadapannya. dan perasaan itu sungguh menyakitkan. sangat menyakitkan…

Fatimah tidak sekolah formal. tapi ia cerdas. sangat cerdas malah. ia sebenarnya sedikit bicara. tapi ia adalah guru yang mengajarkanku banyak hal. dalam hangat sikapnya, manis lakunya, lembut suaranya, kelana-kelana katanya, rangkaian-rangkaian kalimatnya, kecemerlangan jiwanya. bagiku, ia laksana cermin yang jernih, yang memantulkan cahaya benderang ke jalanku. menuntunku, membimbingku. menjadi suluh yang menerangi jalanku.

“hoi-hoi…! lama amat ngalamunnya? ampe lumutan nih aku nunggu kelanjutan jawabanmu…”
“hah-ha…” teguran eri menarikku dari narasi kelana ingatanku. ah ya, aku sedang bicara dengan eri. hampir aja lupa. “ayolah, kawan! kan lagi nginget kenangan masa lalu. kan mesti lama, biar romantisnya krasa… : P ”
“huu…! sok romantis luh!”

eri memonyongkan bibir coklatnya yang pecah-pecah teroksidasi nikotin rokok. ia bangkit dari duduknya dan menuju ke dapur sambil misuh-misuh. aku hanya tertawa. bersandar di kursi kantor yang empuk ini sambil menatap langit-langit kamar. kembali membuka portal waktu di memoriku.

sampai SMA kami berhubungan ‘hit & run’ seperti ini. aku merahasiakannya. tak ada orang yang tahu aku berhubungan dengannya. bahkan teman-teman dekatku. yang mereka tahu aku suka menyendiri, menghabiskan waktu untuk main game, atau berjalan-jalan sendiri mengelilingi kota kecil ini. tak heran mereka mencapku sebagai anak yang ‘aneh’ dan nakal. tapi, siapa peduli, bukan?

saat di SMA, aku ke rumahnya. bukan karena aku tiba-tiba saja dapet keberanian mau nglamar ke orangtuanya. tapi karena sebagai gentleman (ehm), aku berinisiatif mengantarkannya yang buru-buru pulang karena ibunya sakit, tapi angkot lewat jalur lain karena ada festival di alun-alun. motor Suzuki A100 bapakku yang kupake saat itu. sejak saat itu aku kenal dengan keluarganya. ia tinggal bersama ibu dan kakeknya. mereka hidup dari bertani dan memiliki sepetak ladang kecil di lereng bukit. satu hal yang mewah adalah di kamar tamu mereka yang kecil, ada sebuah rak buku besar dengan banyak buku beragam genre berjejer. kata Fatimah, itu adalah buku koleksi ayahnya yang telah meninggal. yang kata Fatimah, juga seorang penulis. aku pun jadi lebih memahami darimana Fatimah bisa secerdas ini.

kakek Fatimah adalah seorang ustad di kampung kecil itu. Ustad Fauzi, demikian orang kampung memanggilnya. ia sudah tua, dan menjadi pengurus musholla kampung dekat rumahnya. tadinya aku sempet grogi dan agak keder juga. Ustad kan biasanya strict banget. apalagi Fatimah adalah anak perempuan satu-satunya di rumah ini. tapi anehnya, sambutannya padaku sangat ramah. ia sering mengajakku berbincang-bincang di teras rumah atau di musholla saat aku datang. darinya aku tahu Fatimah ternyata sudah banyak cerita tentangku. juga tahu bahwa kami sudah tamattu’. tapi jangan mikir yang aneh-aneh ya? berhubung kami bukan muhrim, kami tamattu hanya untuk menghalalkan bicara dan saling ketemu aja. gak lebih dari itu. saat itu aku juga tidak tahu apa itu tamattu, Fatimah sendiri yang mengatakan biar ketemuannya halal mesti melakukan akad ini. rentang waktunya juga cuma sekitar satu-dua jam aja saat kami ketemu. dan selesai saat kami berpisah. dan tentu, mana mungkin aku menolaknya, kan…? ; )

berhubung orangtuaku cuma petani kecil-kecilan, bukan pejabat, isi kantongku pun seadanya. sesuai isi kantongku, aku biasanya memberikan mahar berupa jajanan-jajanan ringan. kadang gorengan, kadang kacang rebus, ato rambutan dari kebun bapakku jika sedang panen. tapi yang paling Fatimah sukai adalah cenil, atau cetil. makanan khas Jawa yang terbuat dari pati ketela pohon. bentuknya bulat-bulat kecil atau kotak kemudian diberi warna hijau, merah, putih, kuning, sesuai selera sebelum direbus. lalu disajikan dengan parutan kelapa dan ditaburi gula. bisa gula pasir, bisa gula merah. yang Fatimah sukai adalah gula merah. lalu kami makan bareng-bareng sambil bertukar cerita. sembari sesekali aku iseng mengambil cenilnya yang membuat ia manyun. sekali-kali kadang kalo ada duit (gak habis buat maen game… : D), aku beliin dia bross bunga atau hiasan murah-meriah lainnya sebagai mahar. ya…, biar agak romantis dikit lah. hehe…

967Guru mengajikegiatan Fatimah biasanya membantu ibunya, Faiza, berjualan bubur dan gorengan depan rumahnya. jika sore mengajar anak-anak kampung mengaji. dan malam hari istirahat. pola hidup yang sangat sederhana. jika bertandang ke rumahnya aku suka sekali melihatnya mengajar anak-anak kecil di musholla. Fatimah sangat suka bermain dengan anak-anak. dan anak-anak kampung pun sangat menyukainya. bagiku, ia seperti malaikat. dan mungkin aku tidak terlalu berlebihan menggambarkannya seperti malaikat. she’s just too dazzling… literally and figuratively. dalam imajiku, kibaran baju gamis dan jilbab lebarnya saat dihembus angin perbukitan itu terlihat seperti sayap-sayap malaikat yang diturunkan dari langit tertinggi. terkadang aku menggantikannya sebentar mengajar anak-anak mengaji, kadang kami bersama-sama mengajar anak-anak mengaji. kadang kami berjalan-jalan di perkebunan teh dekat kampung. aww man, some sweet memories we have… : 3

tapi tentu hubungan kami bukan tanpa hambatan. sekali datang ke kampung Fatimah saja aku langsung tahu bahwa Fatimah adalah kembang desa ini. dia cantik, baik, pintar ngaji lagi. ideal sekali bukan? sementara aku bukan siapa-siapa. just your average little boy who easily can you find everywhere… yes. everywhere. jadi jangan heran banyak pemuda kampung yang panas melihatku bertandang ke rumahnya. mereka sering mengancamku untuk menjauhi Fatimah. dan yang paling menyebalkan dari mereka adalah Romli, anak kyai kampung ini yang arogan. ia sering membanggakan punya darah ‘Gus’ dan sangat memandang rendah orang lain. apalagi aku yang anak kampung biasa ini. yang bukan orang ‘alim’, gak pake kopiah, gak pelihara jenggot, dan gak khatam Jurumiyyah ini. sebegitu benci dan cemburunya ia padaku karena Fatimah lebih memilih berhubungan denganku, sampai suatu waktu karena kesal aku mengacuhkan semua ancamannya, aku dikeroyok oleh dia dan empat santri pesantren ayahnya saat aku bertandang ke rumah Fatimah. tentu saja karena kepepet aku terpaksa mengeluarkan jurus-jurus maut andalanku melawan mereka yang kupelajari di komik One Piece, Tapak Sakti, Kung Fu Komang, Dragon Ball, dan lainnya. dengan hasil yang sangat jelas tentu saja, aku babak belur, mataku lebam membiru dan satu gigiku rontok ditinju…. -__-

‘Gus’ Romli cs mungkin merasa bisa mengintimidasiku untuk tidak berhubungan lagi dengan Fatimah, tapi tentu saja ia salah besar. ia malah membangkitkan adrenalin kelelakianku kalau begini caranya. masih menahan sakit, aku tetap ke rumah Fatimah. saat Fatimah melihatku terkapar di teras rumah, tentu ia terkejut. tapi seperti biasa, raut wajahnya yang selalu tenang itu tak banyak berubah, hanya sedikit membulatkan bola matanya sesaat, lalu tersenyum teduh dan menanyakan padaku apa yang terjadi. tentu saja, biar keliatan keren, aku bilang padanya aku tadi cuma kepleset jatuh. Fatimah hanya tertawa kecil, sembari mengompres dan membalut lukaku.

dan…, itu tidak hanya sekali. melihatku tak menggubris ancamannya, di waktu lain, Romli cs kembali mengeroyokku. membuatku kembali mengeluarkan jurus-jurus maut dari komik yang kubaca. dengan hasil aku terkapar di tengah jalan tentu saja… namun sejak saat itu, Romli cs tak lagi menggangguku. aku tak tahu apa yang menjadi penyebabnya. tapi aku bersyukur. bisa rontok tulangku yang masih dalam masa pertumbuhan ini dijadikan sansak gratis oleh santri-santri mura’bal suruhan Romli terus-terusan… -__-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s