FATIMAH (Part. 3)

bidadari-jilbab4

selama beberapa waktu kami berhubungan seperti ini. dua-tiga minggu sekali saling bertemu dan tukar cerita, mendiskusikan buku-buku yang kami baca di perpus, berjalan-jalan di kebun teh lereng bukit, mengajar ngaji anak-anak di musholla. tentu saja aku sangat menikmati dan mensyukuri semua ini. meski jujur saja ada banyak pertanyaan yang menggangguku, dan sukses mengacaukan stabilitas sinyal-sinyal neotransmitter di jaringan neokortex otakku. kau tahu aku hanya pemuda biasa, Fatimah. tidak jelek-jelek amat lah, tapi juga tidak tampan-tampan amat. biar clueless, tapi tidak bego-bego amat. juga tidak cerdas-cerdas amat. gak soleh-soleh amat, banyak mura’balnya malah. karena itu sungguh sulit kupahami dengan semua pesona kecantikan, kecerdasan, kesalehan, dan pesona kewanitaanmu yang jelas-jelas ada di atas standar rata-rata ini, mengapa kau sudi berhubungan denganku, Fatimah? mengapa kau begitu percaya padaku? mengapa kau seperti menunggu sesuatu dari diriku, Fatimah…? mengapa kau… selalu tersenyum padaku…?

kau tahu? aku sungguh menyukai senyumanmu, tatapan matamu, merdu suaramu, semua lakumu, Fatimah. bagiku kau adalah cermin yang bening, kaca yang jernih. tempat aku terpesona mengagumi keindahan cahaya yang bersemayam dan terpantul cemerlang di jiwamu. bagiku semua dari dirimu adalah anugerah yang indah. sangat indah malah. tapi… tapi aku sungguh tak mengerti. meski aku sungguh mensyukurinya semua ini, tapi jauh di kedalaman hatiku, mengapa tiap kali melihat kau tersenyum kepadaku aku merasakan sakit yang tak bisa kupahami, Fatimah? mengapa jiwaku seolah menjerit pedih perih? mengapa aku seperti ingin menangis…? dalam keriangan dan tawaku, rasa tidak mengerti ini begitu membunuhku. mencabik-cabik, menghanguskan kisi-kisi hatiku. seperti ratusan pedang berpesta mencincang-mencacah kedalaman hatiku. sakit sekali, Fatimah… sakit sekali…

seiring waktu, rasa yang tak mampu kumengerti itu kian mengkulminasi, mengkristalisasi. menghujam dalam dan berakar kuat di lubuk jiwaku. bersamamu aku sungguh bersyukur sekaligus didera pedih. aku terpesona tergila-gila sekaligus tersiksa. aku bahagia sekaligus nelangsa. aku tertawa, sekaligus menangis. kontradiksi-kontradiksi yang tak kupahami inilah yang membentukku. membunuhku. dan mungkin karena ini pula, sohib dekatku, Erka, selalu mengatakan aku ini tipe orang yang tidak ‘nggenah’, ‘aneh’, dan susah didefinisikan.

hingga kemudian, karena alasan ekonomi, orangtuaku yang tak bisa membiayai kelanjutan sekolahku seusai lulus SMA, memintaku untuk bekerja. awalnya aku bertahan bekerja serabutan di Wonosobo agar tetap bisa bertemu dengan Fatimah, namun nasib berkata lain. ada lowongan di Jakarta dari pamanku, dan karena keluargaku membutuhkanku, aku menerimanya. aku pun memberitahu Fatimah hal ini. dan berkata, aku akan kembali. seperti biasa, Fatimah hanya tersenyum. ia berkata, ia tahu aku pasti akan kembali. melihat senyumnya saat itu, entah mengapa aku merasakan sebuah kekhawatiran yang sangat. Seperti ia sedang menyembunyikan sesuatu. aku sungguh tak ingin pergi saat itu karena lesakan kekhawatiran ini. namun seperti mengerti kekhawatiranku, Fatimah berkata bahwa ia baik-baik saja. ia akan menungguku. di tempat kami biasa bertemu.

aku kemudian pergi ke Jakarta ke rumah pamanku. jadi karyawan di sebuah pabrik otomotif. pendapatanku lumayan saat itu, apalagi jika dibandingkan dengan penghasilanku waktu di desa. kami lebih sering berhubungan dengan surat-surat yang panjang. jarang pake handphone. meski waktunya lama sampai, tapi kami yang memang suka menulis ini lebih bisa mencurahkan perasaan lewat rangkaian kata dan kalimat. melalui surat-menyurat ini aku semakin terpesona dengan keindahan tulisan Fatimah dan kedalaman makna di dalamnya. kata per kata yang padat dan dalam, rima yang ritmis dan diksi yang cantik, dengan perspektif Fatimah yang khas, lembut, lugas, namun menyimpan banyak tirai-tirai rahasia. seperti kata para sastrawan, tulisan tidak pernah bohong. bahwa kata dan tulisan bukan sekedar pengungkap pikiran tapi juga cermin kepribadian. dari sebuah tulisan kita akan mengetahui sejauh mana keindahan dan kecantikan jiwa penulisnya. surat-surat Fatimah kuanggap sebagai kitab suciku. aku menyimpannya baik-baik, menjadikannya sebagai suluhku saat kegelapan dan keasingan mencengkeram jalanku. aku selalu membacanya saat aku kesepian, saat aku resah diombang-ambing derasnya arus kehidupan.

namun semakin kami bertukar cerita dalam surat, semakin kami mengsinkronisasikan asa dan rasa kami, semakin rasa kekhawatiran yang lama kupendam di hatiku ini makin kuat berontak. ada suara kecil dalam hatiku yang berteriak-teriak parau memanggilku dalam rutinitas pekerjaan yang menelanku. Berusaha mengingatkanku. aku harus pulang. aku harus segera pulang. jika tidak, aku akan sangat menyesalinya seumur hidupku. Illah ini begitu kuat hingga mengacaukan konsentrasi pekerjaanku.

beberapa waktu aku berusaha menekan rasa ini, sampai suatu malam aku bertemu bertemu Fatimah di mimpiku. ia di sana, duduk di sebuah halte dengan kerudung lebar dan gamis panjangnya. di pinggir jalan yang lebar, panjang, dan lurus ke batas cakrawala dengan awan putih keperakan di biru azure langitnya. melihatku dari kejauhan Fatimah tersenyum. lambaikan jemari tangannya… aku tak tahu mengapa tapi aku sontak berlari. berlari sekuat tenaga mengejarnya. memanggil-manggil namanya. tapi semakin cepat aku berlari, semakin jauh jarakku dengannya… semakin tak kuasa aku menjangkaunya… lalu aku bangun. dadaku terasa sakit dan sesak. mataku terasa perih. Wajahku basah oleh airmata, lengkap dengan ingus yang meler dari hidungku. saat itulah aku tahu, aku sudah mencapai batasku. aku tak bisa melanjutkan ini terus-terusan. besoknya, dengan kebingungan para direksi dan teman sekerjaku aku keluar dari pekerjaanku. dan secepatnya memesan tiket bis untuk pulang ke Wonosobo.

aku sengaja tak memberitahu Fatimah kepulanganku. aku langsung menuju ke rumahnya saat itu. saat itu di rumah hanya ada Ustad Fauzi di teras depan rumah sedang tadarrus al-Qur’an. melihat kedatanganku, Ustad Fauzi terlihat terkejut, kami berbasa-basi sebentar, dan aku pun menanyakan di mana Fatimah. saat itu Ustad Fauzi terdiam. ia menatapku dalam-dalam lalu menghela nafas panjang. dan dengan suara berat, ia berkata bahwa Fatimah sakit. sejak kecil sebenarnya Fatimah sakit-sakitan. ditambah karena kurangnya biaya, sakit Fatimah semakin parah. Beberapa bulan terakhir ini, praktis Fatimah hanya beristirahat di ranjangnya tak bisa kemana-mana karena kondisi fisiknya yang kian lemah. aku hanya diam. tak ada yang kurasakan saat itu. hanya ada kekosongan, kehampaan yang aneh menguasaiku. dalam suratnya, Fatimah tak pernah menceritakan sakitnya. ia ceria dan penuh asa seperti biasa. berbicara tentang mimpi-mimpi, sayap-sayap malakuti, negeri-negeri di langit tinggi, dan kelokan-tikungan jalan di langit dan bumi seperti biasa. saat aku menceritakan ini, Ustad Fauzi hanya menatapku dengan pandangan sedih. ia memberitahuku bahwa dulu pun, waktu pergi ke kota menemuiku, Fatimah kerap memaksakan dirinya. Dan Fatimah selalu meminta kakek dan ibunya untuk tidak memberitahu sakitnya ini padaku.

dengan ijin Ustad Fauzi, aku memasuki kamar Fatimah. baru kali ini aku masuk kamar Fatimah. seperti yang kubayangkan, kamarnya kecil, namun rapi. tak ada pernak-pernik yang mencolok atau tumpukan kosmetika berbagai merk sebagaimana biasa dipajang di kamar para gadis seusianya. hanya sebuah cermin kecil dengan sisir, botol minyak wangi, pemotong kuku, dan beberapa alat kosmetik sederhana lainnya, serta selembar amplop surat yang sepertinya baru dibaca. surat yang kukirimkan seminggu yang lalu. dinding kamarnya yang terbuat dari kayu hanya dipasangi lukisan kaligrafi 14 Manusia Suci. tepat di bawahnya, di ranjang kayu, sang Putri lelap dalam tidurnya. matanya terpejam rapat. meski sedikit pucat, wajahnya tetap terlihat cantik. aku tak bisa menahan rasa pedih di hatiku yang kian menggejolak. lama aku diam terduduk di sisi ranjang, menatap Sleeping Beauty di sampingku ini dalam lelap tidurnya.

sekian menit menunggu, perlahan-lahan kelopak mata Fatimah terbuka. melihat aku duduk di samping ranjang, ia tersenyum, dan bertanya padaku apakah ini mimpi? aku jawab ini bukan mimpi. aku sudah kembali. Fatimah menatapku untuk sekian lama, bangkit dari tidurnya. lalu meminta maaf karena tak bisa memenuhi janjinya padaku, untuk menungguku di tempat kami biasa bertemu….

tembok pertahanan mental yang susah-payah kubangun seketika runtuh. tak bisa lagi aku menahan lesakan emosi yang lama terkulminasi di dadaku ini. kurengkuh erat-erat tubuh Fatimah. seolah tak ingin kulepaskan lagi. terkejut, Fatimah berusaha berontak dengan tenaganya yang kecil, tapi aku tak peduli. kudekap ia erat-erat dengan perasaan perih yang tak mampu kulukiskan. dalam dekapanku, bisa kurasakan bahu Fatimah yang kecil terasa ringkih. detak jantungnya lemah, dan energi kehidupannya yang biasanya terpendar cemerlang itu, kini seperti lampu yang kehabisan minyak. untuk beberapa saat Fatimah diam membiarkanku memeluknya. lalu perlahan ia mengangkat kedua tangannya, balas mendekapku. kami berpelukan erat untuk beberapa lama. tak ada kata. tak ada suara. tak ada gerakan apa-apa. kami tenggelam dan hilang dalam palung kesunyian…

aku lalu meminta izin Ustad Fauzi untuk membawa Fatimah ke rumah sakit agar bisa dirawat sebagaimana mestinya. aku yang akan membayar semua biaya pengobatannya. Fatimah menolak dan mengatakan ia hanya butuh istirahat di rumah saja. namun aku tak peduli. aku tetap memaksanya. aku keluar mencari angkot di jalan dan menyewanya. dengan dibarengi Ustad Fauzi, kami pun berangkat ke rumah sakit saat itu juga.

tiga hari Fatimah dirawat di rumah sakit. aku terus menunggunya saat itu. menemaninya. berbincang-bincang dengannya. perbincangan kami tetap sama. dengan mata berbinar dan penuh kerinduan, Fatimah bercerita tentang buku-buku yang ia baca, syair-syair para sufi yang mempesonanya dalam ketakjuban, menjabarkan makna kata dan rahasia di dalamnya, menarasikan sebuah negeri di langit nun jauh di sana, yang disinari rembulan diterangi bintang-bintang. yang dituju dan dirindu para pengelana di perjalanan-perjalanan malam. kadang ia menatapku lama. dengan senyum bulan sabit merah di bibir tipisnya. lalu bertanya sebelum aku sempat mengawali kata dengan nada bicaranya yang merdu. aku pun mencoba bersikap seperti biasa. tertawa, sembari sesekali menggodanya. namun sebenarnya, di lubuk hatiku aku menangis. aku sungguh menangis. aku tahu hasil cek medisnya dari dokter. dan meski Fatimah tidak melihatnya, aku tahu Fatimah mengetahui kondisi dirinya, lebih dari para dokter dan perawat di sini. karena itu semakin manis senyum Fatimah, semakin perih hatiku bagai diiris-iris. semakin berbinar-binar bola mata kejoranya menarasikan kemenakjuban negeri-negeri langit itu, semakin terbunuh aku ditikam kepedihan tak terjelaskan…

lalu malam itu tiba. di sepertiga akhir malam. kami hanya berdua. kakek dan ibu Fatimah di sedang kembali ke rumah saat itu mengurusi beberapa hal. Fatimah membangunkanku yang tertidur di lantai kamar rumah sakit beralaskan potongan kardus. sepertinya ia habis shalat malam di pembaringan. dalam temaram cahaya lampu, wajahnya terlihat segar, sepasang matanya bercahaya, dan senyum manis menghiasi bibirnya yang basah. aku hampir mengira aku sedang bermimpi saat itu. bahwa Fatimah telah sembuh. namun perkataan Fatimah segera menepis harapan kosongku. sambil berbaring di tempat tidur, Fatimah mengatakan bahwa waktunya telah tiba. setelah memintaku menyampaikan pesan untuk ibu dan kakeknya, Fatimah meminta maaf padaku, karena ia akan lebih dulu berangkat meninggalkanku….

i really can’t help myself but cry like a child… dan Fatimah, hanya tersenyum menatapku. tersenyum lembut. ia menyeka airmataku dengan jemari tangannya yang lentik dengan gerakan halus. menatapku sekian detik, dan mengatakan dua kalimat pendek. dua kalimat pendek yang terasa sangat berat, yang tak mungkin aku lupakan. Fatimah mengatakan ia mencintaiku. bahwa ia sangat mencintaiku. lalu ia tersenyum, meletakkan kedua tangannya diatas dadanya dan menutup kedua bola mata indahnya dengan tenang. dan seusai dua kalimat syahadah terucap dari mulut kecilnya itu, tarikan nafasnya yang lemah perlahan-lahan menghilang. ditelan kesunyian malam. Izrail sang penjemput ruh telah membawanya pergi. membawanya menuju perjalanan di alam selanjutnya.

di sisi ranjang aku menangis. hanya bisa menangis pilu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s