Mas Wawan dan Janda Berkaki Pincang

proposenamanya Mas Wawan. badannya tidak tinggi-tinggi amat, tapi gempal, besar. dengan berewok yang nampang keren di wajahnya. membuatnya kadang terlihat seperti orang Arab nyasar di kampung. hehe… ia adalah seniorku dulu waktu di pondok. seangkatan dengan Mz Eko, guru, sekaligus kakak iparku waktu di pondok. di kampungnya, di perbatasan antara Klampok dan Banjarnegara, ia dikenal sebagai pemuda yang ramah, soleh, cerdas, dan pandai bergaul. ia hidup sederhana dan simple2 aja. low profile, lah. dan karenanya penduduk kampung pun menyukainya.

namun suatu hari, tiba-tiba ia menjadi bahan gosip orang-orang sekampung, membuat keheranan oleh banyak teman-temannya, ditegur dan bahkan disidang oleh keluarganya….usut punya usut, ternyata Mas Wawan yg ganteng, masih perjaka ting-tong, dan banyak ditaksir perawan2 desa itu mau nglamar seorang janda miskin, berkaki pincang, sudah punya satu orang anak pula. wajahnya juga gak cantik-cantik amat. standar aja lah. kontan aja semua orang seolah udah musyawarah bareng-bareng menyalahkan pilihannya itu. orang-orang kampung, teman-temannya, bahkan keluarganya semua sama mengkritik dan menyayangkan keputusannya itu. apalagi gadis2 kampung yang diam2 naksir Mas Wawan. sampai2 beredar isu bahwa si janda berkaki pincang ini pake pelet mbah Dukun hingga bikin Mas Wawan mau meminangnya.

Hanya sedikit saja teman dekat Mas Wawan yang bisa memahami alasan Mas Wawan meminang si janda. salah satunya adalah teman dekat Mas Wawan, Mz Eko. Mz Eko malah mendukung keputusan Mas Wawan 100%, dan hanya tertawa ketika orang-orang menyalahkannya. dijelasin ke orang2 yg menyalahkannya juga susah dan mrk tidak menerimanya. sampai ketika keluarga Mas Wawan menyidang Mas Wawan, mempertanyakan alasan Mas Wawan yg kekeuh mau meminang si janda berkaki pincang ini.

keluarga : “Wan, kamu ini masih muda. pinter, gagah, ganteng, udah kerja. banyak gadis2 cantik yang naksir kamu dan pasti mau dijadikan istri. kenapa kamu malah milih seorang janda? gak cantik-cantik amat juga. kakinya pincang, udah punya anak pula… maksudmu itu apa? apa yang kamu harapkan dari dia? masih mending kalo dia kaya, punya harta. lah dia lebih miskin dari kamu, kok. buat apa kamu melamarnya? kamu ini kayaknya dipelet ya sama si janda, Wan. tobat…! tobat…!”
Mas Wawan : (yang sudah capek dengan pertanyaan dan stereotype yang itu-itu saja ini hanya tersenyum. lalu menjawab dengan sebuah kalimat pendek) “Pak, Mak, Paman, Bibi, semuanya…, aku memilih dia karena cinta itu ‘meskipun’, bukan ‘karena’.”

sekeluarga hanya bengong, tidak memahami jawaban Mas Wawan. usai menegaskan keputusannya, Mas Wawan lalu keluar. menemui sobatnya, Mz Eko, dan menceritakan apa yang jawabannya. Mz Eko hanya tertawa. aku mendengar cerita ini dari Mz Eko pun hanya tertawa, seraya membatin dalam hati, “O, betapa ruginya orang yang membatasi pandangannya pada artifisialisasi esensi-esensi, hingga gagal memahami indah dan menakjubkannya cinta…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s