Jawaban as-Syahid Syeikh al-Buthi pada Takfiri yang Mengkafirkan & Menghalalkan Darahnya

Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin Mesir Halalkan Darah Syaikh al-Buthi dan Jawaban Syaikh al-Buthi

syeikh al-buthiPasca wafatnya al-Allamah Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Bhuti, banyak berita simpang siur mengenai para pelaku pembunuhan sadis ini. Sebagian kalangan meyakini bahwa para pelakunya adalah Ikhwanul Muslimin/Salafi yang merupakan oposisi rezim Basyar Asad. Namun, di sisi lain ada yang meyakini bahwa pelakunya adalah rezim Basyar Asad itu sendiri.

Sebagaimana diberitakan bahwa Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin Muhammad Badi’ menghalalkan darah Syaikh al-Buthi dan menfatwakan untuk membunuh beliau. Perkataan Muhammad Badi’ ini adalah respon dari khotbah Jum’at yang disampaikan oleh Syaikh al-Buthi yang menyatakan bahwa tentara Suriah adalah para sahabat Rasulullah saw. Geram dengan pernyataan ini, Muhammad Badi’ mengeluarkan pernyataan sebagaimana berikut:

“Bagaimana kamu (wahai al-Buthi) menyatakan bahwa para tentara Suriah adalah para sahabat Rasulullah, padahal mereka telah membunuh anak-anak kecil?! Demi Allah sungguh aku menghalalkan darahmu dan menfatwakan untuk membunuhmu. Siapa pun orang muslim yang mampu untuk membunuhmu, maka hendaknya dia membunuhmu.”

Muhammad Badi’ juga berkata:

“Sungguh saya mengafirkan setiap muslim yang bermakmum shalat kepada al-Buthi di masjid. Jika rezim Suriah mencegah kalian untuk melenyapkan orang ini, maka paling tidak kalian tidak mendatangi masjid tempat dia berkhutbah Jumat. Jangan dengarkan perkataan orang kafir ini yang akan segera menemui ajalnya, untuk menerima siksa dan hisab yang sulit.”

Menanggapi ancaman Muhammad Badi’ yang merupakan pimpinan tertinggi gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir tersebut, Syaikh al-Buthi berkata:

“Adapun kematian syahid, maka Rasulullah saw. pernah berdoa untuk mendapatkannya. Jika aku mati karena Islam, maka itu merupakan kemulian terbesar bagiku. Karena sebelumnya banyak orang yang mendahuluiku setiap hari mati syahid karena membela Suriah yang Islamis dan Nasionalis ini.”

“Aku berkata kepadamu (Wahai Syaikh Muhammad Badi’), bakti sosial apa yang telah Anda berikan melebihi Suriah? Amal Islam apa yang telah Anda perbuat melebihi Suriah? Pengorbanan apa yang telah Anda lakukan melebihi Suriah? Jika ukurannya adalah darah, maka darah penduduk Suriah telah mengalir deras di banyak medan pertempuran. Jika ukurannya adalah uang, maka income Suriah sangat sedikit dan banyak kami gunakan untuk membeli senjata. Jika ukurannya adalah iman kepada Allah, maka masjid-masjid di Humat, Homsh, Halb, Damaskus dan tempat-tempat lainnya penuh dengan jamaah shalat lima waktu, rakaat-rakaat shalat sunnah, dan acara-acara penuh keimanan. Kamilah yang akan menjaga Islam, sekarang dan yang akan datang. Sedangkan Anda wahai Syaikh yang menghalalkan darahku mengapa Anda tidak menghalalkan darah orang yang menjaga keduataan Israel di Kairo?! Demi Allah aku tidak akan pernah tinggal di Damaskus jika ada bendera Israel berkibar di sana, demi Allah tidak akan pernah, kapan pun itu. Adapun Anda, sungguh bendera Israel berkibar megah di atas kepala Anda di Kairo, lantas Anda berbicara tentang perjuangan?!”

Kemudian Syaikh al-Buthi berkata mengenai al-Qaradhawi:

“Sesungguhnya al-Qaradhawi telah mengatakan perkataan yang buruk terhadapku. Dia menuduhku telah mendapatkan uang dari penguasa. Dia juga menuduhku bahwa aku telah mendapatkan banyak uang sebagai imbalan atas berbagai pernyataanku. Yang benar dan yang benar, garis perjuangan itu adalah di Suriah, di sinilah garis pertempuran itu. Adapun Dhoha maka itu merupakan simbol pesta pora, penyimpangan, dan keluar dari etika-etika Islam.”

“Setelah hari ini, janganlah kalian mengatakan bahwa kalian sedang membela Ahlussunnah selagi kalian masih mengangkat bendera Israel di negeri-negeri kalian. Kami di Suriah, selagi masih ada satu orang Suriah, seandainya seluruh kekuatan berkoalisi untuk memasang bendera Israel, maka satu orang Suriah ini akan bersedia mati syahid demi menjatuhkan bendera Israel tersebut. Adapun kalian, sekarang ini kalian hidup di bawah bendera Israel dan ini adalah aib yang sangat buruk. Jika kalian mengingkari bahwa para tentara kami bukan termasuk sahabat Rasulullah, maka siapa para sahabat Rasulullah itu? Aku katakan kepada Anda bahwa tentara kami berperang karena mereka menolak untuk mengakui eksistensi Israel atas sejengkal tanah kami kapan pun itu. Aku ingatkan kepada Anda akan perkataan mantan presiden kami yang telah wafat. Dia mengatakannya di depan kami para ulama Ahlusunnah dan lainnya di Suriah: “Sesungguhnya berhenti perang dengan Israel dan berdamai dengan mereka adalah dua perkara yang berbeda.” Berdasarkan hal ini aku katakan kepada Anda: “Aku akan tetap tinggal di Damaskus. Aku bangga dengan Arabku, bangga dengan Islamku, dan bangga dengan pengorbanan penduduk Suriah dan tentara Suriah.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s