DEBAT atau DISKUSI …???

argue diskusi itu lezat dan nikmat. karena ia adalah saling sharing data dan informasi. darinya kita mendapat banyak ilmu dari lawan diskusi. debat itu sangat buruk dan pahit di mulut. ia tak lebih dari menjejalkan ego seseorang pada orang lain. seperti makan nasi yang jatuh ke pasir dan kita dipaksa mengunyahnya. nasinya mungkin masih ada manfaatnya, tapi tanah, pasir, dan batu-batu kecil yg tercampur pasti akan bikin keselek, kerongkongan sobek, dan lambung mual…

dan paling bikin eneg itu memang kalau ketemu jenis orang yang hobinya “mengira seseorang mengira suatu perkiraan.” bukannya mengadu data dan fakta, 99.99% dasarnya bisa dipastikan sangat subjektif dan dilandasi oleh prasangka-prasangka. dan jurus andalannya sudah pasti ad hominem. tanpa data, tanpa fakta, tanpa aksioma.

sungguh benar pesan Rasulullah Saw, “Janganlah kau (melayani) berdebat, meski kau berada dalam kebenaran.” karena berdebat adalah menuhankan ego dan sikap ‘yang penting saya menang dan dia kalah.’ data dan fakta tidak penting bagi orang yg sejak awal prinsipnya hanyalah ‘yang penting saya menang’, ‘yang penting saya terlihat benar’, dan ‘bisa mempermalukan lawan debat saya’.

karena dasar debat adalah mempertahankan ego, maka meski pun kita menang dengan argumen kita sekali pun, pada dasarnya saat itu kita kalah. karena lawan debat merasa egonya tercederai, justru ia akan semakin memusuhi dan membenci kita, apa pun argumen yang kita hujjahkan. karena ini masalah ego-nya yg terusik, ia scr otomatis akan menutup pintu akal dan logikanya. scr psikologis, orang seperti ini sedang melakukan ‘auto defendse system’ untuk menjaga ‘pride’ atau harga dirinya, yg menurutnya akan jatuh jika ia mengakui kesalahannya. padahal sebaliknya, seseorang yang berani mengakui kesalahan adalah seorang ksatria. ia adalah orang yang jantan dan terhormat!

mengalahkan argumen yang lemah dalam sebuah diskusi/debat itu gampang. menjaga perasaan, kehormatan dan harga diri lawan diskusi/debat yang kita kalahkan itu yang sulit dan tricky… jika merasa tak mampu menjaga kehormatan lawan bicara, sebaiknya diskusi/debat jangn diteruskan. dan biarkan saja dia dengan pendapatnya. sesalah dan sekonyol apa pun pendaptnya menurut kita. toh itu hak-nya. kita tak punya hak untuk mengagresi dan memaksa keyakinannya. Tuhan aja gak memaksa orang untuk meyakini sebuah pemahaman tertentu, kok. sombong bener kita memaksa orang agar sama dengan kita. apalagi, melukai hati seseorang jelas bukan perbuatan orang yang beradab dan berakal.

karena itulah, orang bijak akan menerima dengan senang hati diskusi. dengan siapa pun latar belakangnya, dari kelompok mana pun dia, hatta dari kelompok lawannya. dan sudah pasti ia akan menjauhi dan meninggalkan debat-debat kusir yg tidak jelas manfaatnya selain memperbesar ego.

: )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s